Friday, July 11, 2014

Bob Haro

Bob Haro di tahun 1982 (foto: BMX Museum)
Pesepeda di Indonesia mungkin sudah akrab dengan sepeda bermerk Haro. Sepeda yang merknya diambil dari nama pendirinya, Robert “Bob” Haro itu adalah salah satu pelopor sepeda BMX, terutama untuk jenis freestyle. Namun tidak banyak yang tahu bahwa Bob Haro telah menjual perusahaannya tersebut dan beralih ke bisnis lainnya, termasuk mendirikan perusahaan sepeda dengan merk lain.

Bob Haro lahir di Pasadena, California, 29 Juni 1958. Besar di San Diego, keterlibatannya dalam BMX dimulai saat ia kehabisan uang untuk mengikuti balapan motocross. Sebagai pebalap motocross sebenarnya karirnya cukup baik. Hingga tahun 1975 ia telah mendapat 50 piala lomba motocross. Di tahun 1976, Bob pindah ke Stockton, Arizona karena perceraian orang tuanya. Di sana ia mulai membalap untuk Molina’s Bike Shop. Selain membalap ia juga kerap melakukan beberapa trik BMX, sesuatu yang belum umum dilakukan saat itu.

Jiwa bisnis Bob terlihat di tahun berikutnya, saat ia mulai menjual plat nomor start untuk balap BMX. Diberi label “Haro Factory Number Plate”, ini adalah cikal bakal Haro Bikes yang akhirnya menelurkan produk sepeda Haro Freestyler di tahun 1982.

Bob Haro
Selain memulai bisnis sepeda, ia juga membuat kartun untuk berbagai majalah BMX dan motocross hingga akhirnya ia menjadi ilustrator tetap di majalah BMX Action. Di majalah inilah ia bertemu RL Osborn, anak Bob Osborn, pemilik penerbit majalah tersebut yang juga pesepeda BMX.

Bersama RL Osborn ia mendirikan BMX Action Trick Team dengan debut awal di ABA Winternational 1978 di Chandler, Arizona. Tim ini juga telah menanam akar bagi disiplin sepeda BMX Flatland, dan bersama pemain skateboard mulai menggunakan kolam renang yang dikeringkan akibat krisis ekonomi Amerika Serikat, yang di kemudian hari berevolusi menjadi BMX Vert.
Bob Haro (foto: Julian Castaldi)

Tahun 1988, Bob menjual Haro Bikes walau tetap menjadi konsultan teknis di perusahaan tersebut hingga tahun 1993. Saat itu ia memutuskan untuk berkonsentrasi pada bisnis desain dan manajemen merknya. Hasil karya desain Bob terlihat di beberapa merk ternama seperti Oakley, JT Racing, dan Redline.

Saat BMX mulai dipertandingkan di olimpiade tahun 2008, Bob terlibat mendesain logo, desain, dan pakaian pebalap BMX untuk tim Amerika Serikat. Pada Olimpiade 2012, ia membantu Danny Boyle (sutradara “Slumdog Millionaire”, “28 Days Later”, “The Beach”, dan “Trainspotting”) mendesain koreografi untuk pembukaan Olimpiade.

Ia juga bekerja sama dengan Red Bull membuat Red Bull Revolution sebuah invitasi balap BMX yang diselenggarakan di Berlin, Jerman. Event ini menggunakan lintasan seperti balap BMX namun dengan rintangan yang lebih besar dan kecepatan yang lebih tinggi. Selain adu cepat, penghargaan juga diberikan kepada pebalap yang melakukan trik. Bob juga mendirikan pabrikan sepeda BMX baru, Ikonix.


(Goestarmono/dimuat di Back2boseh Pikiran Rakyat 29 Juni 2014)




Tuesday, July 8, 2014

C2AM Challenge, Bukan Sepeda Santai Biasa

Peserta C2AM Challenge #5. Photo oleh Suhadi Haryanto
Tidak banyak event yang berulang dalam waktu yang cukup lama. Salah satunya adalah Cycling Community All Mountain (C2AM) Challenge. Event ini diselenggarakan untuk kali ke lima, Minggu (15/6/2014) lalu.

Apa yang ditawarkan  Ride Bike Project sebagai panitia sehingga bisa bisa sukses menyelenggarakan C2AM Challenge hingga 5 kali? C2AM Challenge adalah sebuah adventure ride, bukan sebuah kompetisi, namun juga bukan sebuah acara sepeda santai.

Acara itu diikuti oleh sedikitnya 600 goweser yang datang dari berbagai wilayah di Jawa Barat, Jakarta, Surabaya, Bali, Makassar, Medan, bahkan Selandia Baru.

Dalam penyelenggaraan kali ini, lintasan yang dilalui sepanjang 12,5 kilometer dari Wates Cikole dan berakhir di Desa Cibeusi, Kecamatan Ciater, Kabupaten Subang. Lintasan yang dimulai dari dekat tugu perbatasan Kabupaten Bandung Barat dan Kabupaten Subang ini adalah lintasan yang baru dibangun. Berada di lahan milik PT. Perhutani, lintasan ini menyajikan tantangan tersendiri dengan permukaan tanah yang belum banyak tergerus roda kendaraan, lumpur yang bisa menutupi ban sepeda, serta tumpukan seresah yang membuat lintasan menjadi licin.

Selain dengan kondisi lintasan, tantangan juga hadir dari kondisi kontur lintasan yang dilalui. Tanjakan dan turunan bergantian menunggu untuk ditaklukkan peserta. Walaupun begitu, lintasan ini didominasi turunan karena titik finish di Cibeusi dengan elevasi 800 meter di atas permukaan laut (mdpl) lebih rendah dari titik start di Wates di ketinggian 1.500 mdpl. Turunan curam hingga 40,9% dan licinnya lintasan mensyaratkan kemampuan pengendalian dan sepeda yang prima. Sedikit kesalahan dari peserta, jurang yang menganga di beberapa tempat dapat mengambil korban.

Dilepas secara berkelompok, sekitar 500 orang peserta melalui lintasan yang ditentukan. Tidak ada batas waktu bagi peserta untuk menempuh lintasan tersebut. Selain untuk menikmati alam, resiko peserta juga akan meningkat saat kurang berhati-hati di lintasan yang sulit ini.

Dalam perjalanan, selain lintasan itu sendiri, ada beberapa titik yang menarik dilewati peserta. Warung dengan pengrajin lahang, minuman yang dibuat dari nira membuat peserta menghentikan sejenak sepedanya untuk menikmati lahang dan sedikit mengisi perut. Titik yang menarik lainnya adalah air terjun Cisarua yang juga banyak menarik peserta untuk mengambil foto.

Setelah acara ini, lintasan dapat dipergunakan untuk umum. Sedikit biaya dipungut kepada pengguna untuk kas pemeliharaan lintasan. Sayangnya ada satu hal yang menyulitkan saat melintasi lintasan ini. Lintasan yang masuk ke dalam hutan menyulitkan evakuasi saat terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

Dengan makin meningkatnya kemampuan sepeda, teknik pengendalian sepeda pun perlu diasah di lintasan yang benar-benar dapat mengeluarkan potensi kemampuan sepeda gunung ini. Saat pesepeda gunung terintimidasi oleh suasana kompetitif di ajang kompetisi, namun kurang tertantang oleh acara sepeda santai biasa. Adventure ride seperti C2AM Challenge ini cocok untuk meningkatkan kemampuan bersepeda, dan mengeluarkan potensi sepeda gunung yang dimiliki.


(Goestarmono/Dimuat di Back2boseh Pikiran Rakyat 22 Juni 2014)

Tuesday, July 1, 2014

Seri 4 World Cup Downhill, Leogang, Austria

Setelah gagal pada seri yang diselenggarakan di negaranya, pebalap Inggris kembali merajai seri World Cup Downhill ke 4 yang diselenggarakan di Leogang, Austria. Namun bukan kakak beradik Atherton yang menjuarai event tersebut. Adalah Manon Carpenter (Madison Saracen) dan Josh Bryceland (Santa Cruz Syndicate) yang berhasil mempersembahkan puncak podium bagi Inggris.



Juara seri 4 World Cup Downhill, Manon Carpenter (foto: Fraser Britton)
Di bagian putri Manon Carpenter mendominasi seluruh seri lomba. Setelah berhasil mencatat waktu tercepat di babak kualifikasi, ia juga memenangkan babak final dengan waktu 3 menit 42,517 detik dan kecepatan tertinggi di speed trap dengan 46,129 kilometer per jam. Ia mengalahkan rekan senegaranya Rachel Atherton (GT Factory Racing) yang tertinggal 2,699 detik. Sementara itu pebalap Perancis, Myriam Nicole (Commençal/Riding Addiction) menduduki podium ketiga, tertinggal 4,028 detik. Dengan kemenangan ini Manon semakin kokoh berada di puncak klasemen World Cup di atas Emmeline Ragot (Perancis/Lapierre) yang pada lomba ini berada di posisi ke empat. Melengkapi podium adalah rekan senegara Manon dan Rachel, Tahnee Seagrave (FMD Racing).

Juara seri 4 Downhill World Cup, Josh Bryceland (foto: Bartek Wolinski)
Di bagian putra Josh Bryceland berhasil menyelesaikan lintasan sepanjang 2,49 kilometer dalam waktu 3 menit 18,749 detik. Ia berhasil finish lebih cepat 1,275 detik dari rekan setimnya, Greg Minaar (Afrika Selatan). Di tempat ketiga adalah pemenang seri Fort Williams, Troy Brosnan (Australia/Specialized Racing DH) dengan waktu 3:20,033.

Aaron Gwin menyelesaikan lomba tanpa ban belakang (foto: Flow Mountain Bike)
Pada babak kualifikasi, Josh Bryceland menempati posisi ketiga di bawah Loic Bruni (Perancis/Lapierre Gravity Republic) dan Aaron Gwin (Amerika Serikat/Specialized Racing DH). Saat Josh menyelesaikan lombanya, Loic dan Aaron masih bisa mengalahkan catatan waktu Josh. Gwin memperoleh kesempatan pertama, namun kempesnya ban Aaron saat awal lomba menggagalkan niatnya menjuarai seri ini. Namun mengingat posisinya yang sedang memuncaki klasemen membuatnya tetap melanjutkan lomba tanpa ban belakang dan finish dengan waktu 3:58,066 dan mendapat poin 3. Selanjutnya kesempatan beralih pada pencetak waktu tercepat pada kualifikasi, Loic Bruni. Kiprah Loic Bruni di babak final sempat membuat khawatir Josh Bryceland. Loic Bruni terbukti memang cepat, dengan mencetak waktu tercepat pada split 1 dan 2, waktu yang dicatat pada split tersebut berkisar 0,7 dan 0,5 detik lebih cepat dari waktu Josh Bryceland. Sayangnya kesalahan di bagian akhir membuatnya gagal mencetak waktu terbaik dan finish lebih lambat 6,554 detik dari Josh.

Setelah seri Leogang ini di bulan Agustus seri World Cup akan berlangsung di benua Amerika. Tanggal 2-3 Agustus seri World Cup akan diadakan di Mt. St. Anne, Kanada dan minggu depannya di Windham, Amerika Serikat, sebelum kembali ke Eropa untuk seri penutup di Meribel, Perancis, 23-24 Agustus.


(Gustar Mono)

Thursday, June 12, 2014

Seri World Cup Downhill Sepeda Gunung Fort William, Inggris


Pebalap tuan rumah gagal memuncaki podium di seri ketiga World Cup sepeda gunung downhill yang diselenggarakan di Fort Williams, pegunungan Ben Nevis, Inggris. Setelah beberapa kali merajai podium World Cup di seri sebelumnya, kali ini pebalap Inggris harus mengakui pebalap Australia dan Prancis pada nomor downhill putra dan putri pada kejuaraan yang diselenggarakan tanggal 5-8 Juni 2014 lalu.

Emmeline Ragot, pemenang seri World Cup DH #3 Fort William
Di bagian putri, Emmeline Ragot (Prancis/Lapierre Gravity Republic) menjuarai nomor putri dengan membukukan waktu 5 menit 12,624 detik. Ia mengalahkan rekan senegaranya Myriam Nicole (Commençal - Riding Addiction) yang terpaut 8,710 detik. Podium ketiga ditempati Tracey Hannah (Australia/Polygon Hutchinson UR) dengan waktu 5:26,600.

Troy Brosnan, pemenang seri World Cup DH #3 Fort William
Di bagian putra, sama halnya dengan di bagian putri, dua rekan senegara menguasai podium teratas. Pebalap Australia Troy Brosnan (Specialized Racing DH) dan Samuel Hill (ChainReactionCycles.com / Nukeproof) memuncaki podium dengan waktu 4:36,580 dan 4:38,239. Di tempat ketiga, pebalap tuan rumah Danny Hart mencatat waktu lebih lambat 2,076 detik dari Troy Brosnan.

Sebenarnya pebalap tuan rumah cukup memberi perlawanan dalam lomba ini. Di nomor putri, pebalap tuan rumah Manon Carpenter (Madison Saracen Factory Team) mencatat waktu kualifikasi tercepat. Selain tercepat di kualifikasi, Manon juga masih meraih waktu tercepat pada Split 1 babak final. Kesalahan yang dibuat di bagian 2 lintasan sepanjang 2,82 kilometer ini membuatnya tertinggal lebih dari satu menit dari Emmeline Ragot. Podium putri terbaik tuan rumah diraih pebalap senior Fionn Griffiths yang meraih posisi ke enam.

Di bagian putra, pebalap tuan rumah Danny Hart juga mencatat waktu tercepat di bagian awal lomba. Berbeda dengan putri, di bagian putra, keunggulan sekitar 0,7 detik tidak mampu dipertahankan Danny hingga akhirnya kalah 2,076 detik dari Troy Brosnan walaupun tidak terjadi kesalahan yang dilakukan pebalap tuan rumah tersebut.

Lintasan Fort William ini adalah lintasan klasik yang selalu digunakan untuk seri World Cup sejak tahun 2002. Untuk tahun 2014 ini, lintasan yang digunakan sepanjang 2,82 kilometer dengan titik finish lebih rendah 555 meter dari garis start. Kombinasi lintasan yang sulit serta bagian berkecepatan tinggi membuat pebalap harus mengatur ritme lomba. Lomba di tahun ini berlangsung dalam cuaca mendung dan berawan dan suhu berkisar 16 hingga 20 derajat celcius.

Bagian lintasan yang cepat dapat membuat pebalap menjalankan sepedanya di atas kecepatan 80 kilometer per jam. Namun bagian yang cukup sulit membuat pebalap unggulan tidak terpancing untuk mengejar kecepatan tinggi. Di tahun 2014 ini kecepatan tertinggi di speed trap diraih pebalap non unggulan Mikael Vickers (Inggris / Santa Cruz Syndicate) dengan kecepatan 86,086 kilometer per jam di bagian putra dan pebalap Mexico Lorena Drumondo Vargas di bagian putri dengan kecepatan 82,133 kilometer per jam. Kecepatan yang dibuat belum dapat membantu mereka mencatat waktu yang cukup baik untuk lolos ke babak kualifikasi.


(Goestarmono)

Monday, June 2, 2014

Terbalik Lebih Asyik?

Rockshox RS-1 (SRAM.com)
Beberapa waktu lalu, pionir sepeda gunung, Rockshox melansir produk barunya dengan cara unik. Sekali sehari mereka mencicil “penampakan” produk barunya. Dalam tiga hari di halaman jejaring sosialnya ditampilkan tiga detail produk tersebut. Di hari ke empat sebuah gambar utuh dari produk dirilis oleh Rockshox. Garpu suspensi itu dinamakan RS-1, sama seperti nama produk pertama Rockshox. Berbeda dengan RS-1 yang asli, garpu RS-1 yang dikeluarkan tahun 2014 ini berdesain terbalik, alias inverted, atau lebih dikenal dengan upside down.

Desain garpu inverted sudah banyak digunakan di sepeda motor, terutama untuk keperluan kompetisi. Jika suspensi konvensional menggunakan slider dengan tabung lebih besar di bagian bawah dan tabung stanchion yang lebih kecil dijepit oleh crown di bagian atas. Suspensi inverted, seperti namanya tersusun secara terbalik, di bagian atas crown menjepit slider, sementara stanchionnya berada di bagian bawah, menjepit as roda. Keuntungan dari desain ini adalah berkurangnya unsprung mass sehingga peredaman guncangan lebih efektif. Selain itu, desain internal dengan sil yang selalu terendam oli membuat gaya gesek di stanchion berkurang.

Garpu inverted sebenarnya sudah banyak digunakan di sepeda. Dari sekian banyak garpu inverted, mungkin hanya Manitou Dorado yang sukses bertahan dalam arti tetap diproduksi dalam jangka waktu yang cukup panjang. Sekarang pertanyaannya adalah, apa kelemahan garpu inverted sehingga sangat jarang garpu sepeda yang sukses dengan desain ini?

Garpu dengan desain ini mengalami kelemahan yaitu kemampuan menahan torsi stir yang rendah. Walaupun produsen dapat membuat garpu yang cukup kaku dari arah depan dan belakang, namun hilangnya brake arch membuat garpu fleksibel dari torsi yang dihasilkan stang atau defleksi kiri-kanan akibat lintasan yang dilalui. Dengan adanya brake arch, torsi ditahan di bagian crown, brake arch, dan as roda. Pada garpu inverted hanya dua bagian yang memegang peranan, yaitu crown dan as roda.

Sedikit pencerahan datang dari perusahaan yang dibuat Paul Turner, Maverick. Garpu yang digunakan Maverick cukup berhasil dengan desain inverted walau digunakan untuk keperluan cross country. Benang merah dari keberhasilan garpu inverted adalah rekayasa di titik pegangan untuk mengkompensasi hilangnya brake arch. Untuk mengkompensasi absennya brake arch, Maverick mengelas crown bagian bawah dan meningkatkan ukuran as roda menjadi 24 milimeter. Produsen lainnya, Manitou menggunakan as segi enam untuk garpu Dorado-nya. Bagaimana dengan Rockshox?

Predictive Steering (foto dari MTB Magazine)
Untuk meningkatkan torsional rigidity, Rockshox RS-1 menggunakan rangkaian unik dari as, garpu, dan sistem kompresi yang dinamakan Predictive Steering™. Sistem ini menggunakan hub khusus dan torque tube sehingga antarmuka hub dan dropout seakan menggunakan as berukuran 27 milimeter walaupun menggunakan as Maxle™ berukuran 15 milimeter.

Akankah Rockshox sebagai salah satu pemain utama suspensi sepeda sukses melakukan salah satu tantangan paling berat di dunia suspensi sepeda, membuat suspensi inverted untuk pengguna cross country dengan keharusan bobot yang ringan?


(Goestarmono, dimuat di majalah Ridebike Juni 2014)