Showing posts with label Back2boseh. Show all posts
Showing posts with label Back2boseh. Show all posts

Friday, March 9, 2018

Bukan Sekedar Pakai Helm


Hierarki pengendalian resiko 
Bersepeda adalah kegiatan yang sehat, menyenangkan, dan aman untuk dilakukan. Sayangnya masih ada cerita kecelakaan yang mengakibatkan kerusakan sepeda, cedera, hingga kematian. Kegiatan bersepeda, terutama yang bertujuan hobi hingga kompetisi, mengandung unsur risiko. Walau begitu, menghindari kecelakaan tetap menjadi hal yang mutlak.

Memang belum ada pembahasan mendalam tentang pengelolaan bahaya dalam kegiatan sepeda. Untuk itu kita dapat meniru pengelolaan resiko dari kegiatan lain, salah satunya dari kegiatan industri. Di kegiatan industri, US National Institute for Occupational Safety and Health telah merilis lima langkah hierarki pengelolaan bahaya. Urutan langkah sesuai efektivitas yaitu, eliminasi, substitusi, pengendalian rekayasa, pengendalian administratif, hingga penggunaan alat pelindung diri.

Group ride dengan sharing teknik bersepeda
Eliminasi adalah penghilangan kegiatan yang berpotensi kecelakaan. Bersepeda ekstrem dapat dihindari untuk menghilangkan resiko kecelakaan. Untuk pesepeda yang serius untuk bersepeda ekstrem saran ini dapat dianggap mengada-ada. Namun untuk kegiatan sepeda lainnya, seperti transportasi atau kesehatan, kegiatan “iseng” menyerempet bahaya sering menimbulkan kecelakaan yang tidak perlu.

Substitusi, atau penggantian kegiatan dengan yang tingkat bahaya lebih rendah menjadi langkah selanjutnya. Salah satu contoh adalah adanya jalur alternatif, atau chicken way di rintangan seperti jump atau drop yang memungkinkan pesepeda belum berpengalaman menempuh lintasan dengan aman walaupun menambah waktu tempuh. Untuk kegiatan transportasi, kita bisa memilih melalui jalan lingkungan daripada menambah resiko melewati jalan raya besar bersama kendaraan bermotor berkecepatan tinggi.

Perawatan sepeda mutlak untuk bersepeda yang aman
Selanjutnya adalah pengendalian rekayasa. Kita bisa menghindari resiko dengan peralatan yang lebih baik. Lebih baik di sini bukan berarti baru atau mahal. Penggunaan sepeda dan komponen sesuai peruntukan, perawatan berkala, serta melakukan pengecekan dampak upgrade atau modifikasi dapat mengurangi resiko kecelakaan secara signifikan. Pengaturan pannier secara seimbang untuk menghindarkan selip ban depan adalah salah satu contoh pendekatan ini.

Pengendalian administratif, atau mengubah cara suatu kegiatan dilakukan adalah langkah pencegahan kecelakaan yang terakhir. Cara ini dilakukan dengan memperbaiki teknik bersepeda. Di luar negeri sudah banyak dilakukan kelas teknik bersepeda dalam berbagai tingkatan dari pemula hingga tingkat tinggi, demikian pula dengan resor sepeda yang mencantumkan tingkat bahaya suatu lintasan agar aman dilalui pesepeda sesuai tingkatannya tanpa mengurangi sensasi. Bagaimana dengan di Indonesia? Tingkatan lintasan sudah mulai diperkenalkan di beberapa resor sepeda di Bali dan Jawa Timur, sementara untuk pesepedanya, belum ada kelas yang terstruktur di mana pesepeda bisa terus mempelajari teknik bersepeda dengan baik. Akibatnya, masih banyak kecelakaan yang terjadi karena teknik dasar bersepeda belum dikuasai, seperti penggunaan rem belakang yang berlebihan, atau ban belakang yang menggantung saat jumping.

Mau ekstrem tapi aman? Pelajari dari rider yang kompeten
Hal yang terakhir dilakukan tidak mencegah kecelakaan, tetapi hanya mengurangi keparahan akibat kecelakaan. Alat pengaman diri seperti helm, kacamata, hingga body protector untuk bersepeda downhill dikenakan untuk mengurangi cedera akibat kecelakaan hingga ke tingkat yang dapat diterima (acceptable risk). Penggunaan alat pengaman diri digunakan setelah tahapan pencegahan sebelumnya dilakukan. Penggunaan alat pengaman diri memang paling mudah dinilai karena terlihat secara sekilas. Walau begitu pesepeda diharapkan lebih memperhatikan saat rekan bersepedanya melakukan hal yang berpotensi mengakibatkan kecelakaan seperti sepeda yang tidak layak pakai, modifikasi yang membahayakan, atau memasuki trek yang lebih berbahaya dari kemampuan
rekan tersebut.

Seorang pemandu sepeda, Christopher Noel, mengatakan kecelakaan sepeda umumnya bisa dihindari. Biasanya kecelakaan terjadi akibat pesepeda bersepeda melewati batas kemampuannya. Mencoba mengikuti rekan yang tingkat kemampuannya jauh lebih tinggi, melewati lintasan di luar kemampuan, serta ingin terlihat mampu oleh rekan-rekannya adalah alasan sebab paling umum seorang pesepeda melupakan batas kemampuannya.

Pencegahan kecelakaan adalah tanggung jawab kita bersama, demikian pula safety riding bukan hanya sebatas menggunakan helm, tapi juga mencegah kecelakaan sebelum terjadi tanpa mengurangi sensasi bersepeda.

(Goestarmono)

Friday, March 17, 2017

Evolusi Sepeda Turing

Polygon Bend RIV
Kegiatan turing bersepeda bukanlah hal yang baru. Kegiatan ini sudah mulai dilakukan sejak awal sejarah sepeda. Kegiatan turing bersepeda mengalami pasang surut dengan puncak popularitas terakhir di tahun 1960 dan 1970-an sebelum populer kembali akhir-akhir ini. Kegiatan turing bersepeda kembali bergeliat seperti terlihat pada banyaknya kegiatan turing selain popularitas pelaku turing dan varian sepeda turing yang ditawarkan pabrikan.

Para ahli berkata saat ini adalah masa disruptif, banyak hal berubah, begitu pula dengan turing bersepeda. Di pertengahan dekade 2000-an, bermunculan kegiatan sepeda ultra-marathon dan gravel race. Event ultra marathon yang menempuh jarak ribuan kilometer seperti Tour Divide yang memotong Amerika Serikat dari utara ke selatan, Trans Am Bike Race, dan Transcontinental Race mengharuskan peserta membawa perbekalannya sendiri di luar yang bisa dibeli di sepanjang jalan.

Sepeda yang digunakan Mike Hall dalam Trans Am
Di sisi lain gravel race seperti Dirty Kanza menempuh jalan berkerikil sepanjang ratusan kilometer. Jalur lomba ini tidak melalui jalan raya dan panitia tidak memperbolehkan kendaraan pendukung peserta sehingga mereka harus mengatasi seluruh masalah yang terjadi.

Kedua jenis event ini membuat pola yang banyak ditiru peturing. Semakin banyak turing bersepeda dilakukan secara lebih cepat dan mengeksplorasi daerah di luar jalan raya yang biasa dilalui. Peralatan dan pola istirahat yang digunakan peserta lomba di atas menjadi acuan untuk meningkatkan jarak jelajah harian dalam turing. Kemajuan infrastruktur dan jaringan pendukung juga menjadi latar belakang berubahnya kegiatan turing bersepeda. Jarak antar sumber logistik seperti minimarket, cafe, warung, dan penginapan yang semakin dekat membuat perbekalan bisa dikurangi atau beralih ke peralatan yang lebih ringan. Banyak pula peturing yang sebelumnya menekuni genre lain familiar dengan kecepatan dan eksplorasi dengan melakukan turing dalam kecepatan lebih tinggi dan mengeksplorasi jalanan kelas dua, bahkan offroad.

Trek 920
Pabrikan pun membuat peralatan yang lebih ringan dan spesifik untuk kegiatan turing termasuk sepeda yang digunakan. Pabrikan sepeda pun merilis sepeda untuk turing dengan desain yang lebih kekar dengan rangka berbahan variatif, tidak lagi terbatas pada baja dan titanium, namun aluminum, bahkan serat karbon. Penggunaan dropbar seperti sepeda jalan raya dengan sedikit modifikasi berupa sudut yang membuka di bagian bawah efektif untuk menghindarkan pesepeda dari terpaan angin dengan tidak mengorbankan kemampuan off-road. Kaki sepeda turing pun menggunakan as thru axle yang kaku dan rem cakram yang lebih kuat. Desain rangka sepeda mengisolasi getaran akibat kecepatan dan medan kasar sehingga tidak terlalu mempengaruhi bawaan, baik dalam pannier atau tas bikepacking.

Rangka yang lebih kaku dan bobot yang lebih ringan tidak mengurangi kenyamanan sepeda turing generasi baru. Jika sepeda turing tradisional dikenal nyaman berkat fleksibilitas rangkanya, maka sepeda turing generasi baru mengisolasi getaran untuk mendapatkan keseimbangan antara performa dan kenyamanan.

Berpetualang ke tempat baru, berinteraksi dengan masyarakat yang berbeda, merasakan lingkungan dengan lebih seksama dibandingkan dengan moda transportasi lain adalah inti dari kegiatan turing bersepeda. Berubahnya lingkungan dan pendukung turing bersepeda membuat kegiatan turing bersepeda pun berubah. Tentu saja penggiat turing bersepeda diuntungkan dengan lebih banyak pilihan untuk melakukan kegiatan yang disukainya.


(Goestarmono, dimuat di Back2boseh Pikiran Rakyat, 12 Maret 2017)

Friday, January 20, 2017

200 Tahun Sepeda

Karl Drais menciptakan Laufmaschine tahun 1817
Sepeda, alat transportasi, rekreasi, dan olahraga saat ini telah berumur 200 tahun sejak penemuan Laufmaschine (mesin lari) oleh Baron von Karl Drais. Sebelum diciptakannya sepeda oleh pegawai negeri di Baden ini, barang dan penumpang diangkut menggunakan kereta yang ditarik hewan, terutama kuda. Letusan gunung Tambora di Indonesia mengakibatkan Tahun tanpa musim panas yang menggagalkan panen dan Karl Drais menciptakan solusi dari bencana kelaparan yang terjadi.

Ciptaan Karl Drais adalah kendaraan yang tidak membutuhkan hewan sebagai penggerak. Hewan seperti kuda yang banyak digunakan saat itu membutuhkan pakan yang sangat berharga saat bencana gagal panen. Ciptaan Karl Drais ini juga meletakkan dasar dari alat transportasi personal. Untuk pertama kalinya manusia dapat bergerak dengan praktis, tanpa perawatan kendaraan yang rumit. Dalam perjalanan 200 tahun sepeda, ada beberapa hal yang dimaksudkan untuk diaplikasikan untuk sepeda namun digunakan luas di bidang lainnya.

John Dunlop, penemu ban numatis
Salah satu sumbangsih dunia sepeda adalah jalan raya. Penggunaan sepeda membutuhkan jalan yang mulus. Kereta yang ditarik hewan menggunakan roda yang sangat besar sehingga permukaan jalan yang mulus bukanlah suatu keharusan. Demikian pula dengan sumber tenaganya, saat melalui jalan yang kurang mulus, pengendara kereta kuda tidak begitu merasakan beratnya perjalanan, berbeda dengan pengendara sepeda.

Buruknya kondisi jalan terutama di luar kota terjadi saat maraknya penggunaan kereta api tahun 1840-an. Transportasi rel mematikan transportasi jalan antar kota sehingga pemerintah tidak merasa perawatan jalan sebagai prioritas. Organisasi sepeda seperti Cyclists’ Touring Club di Inggris dan League of American Wheelmen di Amerika Serikat melobi pemerintah untuk merawat jalan antar kota. Tanpa lobi pesepeda, jalan antar kota kemungkinan menjadi hilang atau tetap berkondisi buruk sehingga kepemilikan kendaraan bermotor menjadi tidak menarik.

Pabrik sepeda Wright, tempat Wirght bersaudara membangun pesawat terbang pertama 
Buruknya jalan juga membuat seorang dokter hewan, John Boyd Dunlop menciptakan ban numatis, atau ban yang diisi angin tahun 1888. Dunlop yang juga membuat berbagai peralatan karet ini menciptakan ban yang dapat mengurangi guncangan saat anaknya bersepeda.

Masih di bagian roda, atau bagian lain yang bergerak, seorang mekanik dari Paris, Jules Pierre Suriray menciptakan bantalan peluru (ball bearing). Bantalan peluru ini digunakan di sepeda yang digunakan James Moore dalam balap sepeda Paris-Rouen tahun 1869. Penyempurnaan ini sangat besar sehingga James Moore menjuarai balap sepeda tersebut. Saat ini bantalan peluru digunakan di hampir seluruh poros benda bergerak.

Selain penemuan spesifik, pengetahuan tentang sepeda membuat Wright Bersaudara yang juga produsen sepeda berhasil tercatat sejarah sebagai orang pertama yang menerbangkan pesawat terbang. Di samping menemukan alat pengendali terbang, Wright Bersaudara juga mengaplikasikan prinsip rasio tenaga dan bobot yang penting dalam desain sepeda. Sebelum percobaan Wright bersaudara, percobaan terbang sebelumnya banyak bertumpu pada tenaga yang besar tanpa memperhitungkan bobot mesin dan konstruksi. Wright bersaudara bahkan tidak dapat menemukan produsen mesin yang cukup ringan untuk memberi tenaga pesawat terbangnya. Mereka membangun mesin sendiri bersama Charlie Taylor, mekanik mereka di bengkel sepedanya.

Rangka mobil Caterham yang dibangun dari pipa baja seperti sepeda
Obsesi pabrikan sepeda untuk mengurangi bobot juga menghasilkan penemuan konstruksi pipa baja.Konstruksi ini disempurnakan John Reynolds tahun 1897 dengan pipa butted atau pipa yang lebih tipis di bagian tengahnya. Konstruksi ini masih banyak digunakan dalam dunia otomotif, bahkan untuk keperluan sport dan kompetisi hingga meluasnya konstruksi monocoque (cangkang tunggal) baru-baru ini.

Kesederhanaan sepeda dan dinamikanya telah membawa banyak kemajuan dalam peradaban manusia. Setelah 200 tahun perjalanan sejarah sepeda, bagaimana dunia sepeda menjawab tantangan di masa depan?


(Goestarmono)

Friday, January 13, 2017

Rebecca Rusch dan Sisa Perang Vietnam

Perang banyak meninggalkan kenangan buruk bagi orang-orang yang terlibat di dalamnya. Tapi bagaimana jika apa yang terjadi saat perang masih menyisakan bahaya hingga saat damai? Salah satu bahaya sisa perang adalah UXO (Unexploded Ordinance) atau artileri yang tidak meledak, seperti bom, roket, granat, atau ranjau darat. Sebuah ekspedisi MTBLAO pada tanggal 13-20 November 2016 yang dipimpin seorang juara dunia sepeda gunung meningkatkan kesadaran tentang hal itu.

Rebecca Rusch adalah salah satu atlet sepeda gunung terbaik. Spesialisasinya dalam nomor yang membutuhkan ketahanan dibuktikan dengan memenangkan Kejuaraan Dunia Sepeda Gunung 24 Jam dari tahun 2007 hingga 2009. Sebelumnya ia juga menekuni panjat dinding, adventure racing, rafting, dan ski cross country. Rebecca dikenal sebagai atlet yang banyak membagi ilmunya, di antaranya melalui program “SRAM Gold Rusch”, sebuah perkemahan dengan workshop bersepeda khusus wanita. Ia juga menjadi penyelenggara lomba “Rebecca Rusch Private Idaho” di Ketchum, Idaho tempat tinggalnya saat ini serta aktif di organisasi advokasi dan filantrofis sepeda seperti IMBA, People for Bikes, dan World Bicycle Relief. Kisah hidupnya yang inspiratif sudah ditulis dalam buku “Rusch to Glory: Adventure, Risk, & Triumph on the Path Less Pedaled

Lahir di Puerto Rico tahun 1968, ia baru berumur dua tahun saat ayahnya, Stephen Rusch, pilot AU Amerika Serikat ditembak jatuh gerilyawan Viet Cong di sekitar Ho Chi Minh Trail. Tahun 2015, Reba, begitu ia dipanggil, bersepeda menyusuri Ho Chi Minh Trail sepanjang 1.800 kilometer untuk mencari lokasi jatuhnya pesawat tersebut. Ho Chi Minh Trail adalah rute logistik pada perang Vietnam yang kebanyakan berada di daerah perbatasan Vietnam dengan Laos dan Kamboja. Di perjalanan yang akan dirilis sebagai film dokumenter penuh “Blood Road” itu, Reba menyelami kehidupan ayahnya dan masyarakat Indochina.

Tahun ini Reba kembali dengan 15 orang pengendara sepeda Amerika Serikat untuk bersepeda sejauh 550 kilometer. Perjalanan ini diharapkan meningkatkan kesadaran dan menggalang dana untuk isu UXO yang masih menjadi masalah besar di Indochina, terutama di Laos. Walaupun perang Vietnam telah berakhir tahun 1975 atau sekitar 40 tahun yang lalu, 300 orang per tahun masih menjadi korban artileri yang gagal meledak. MAG (Mines Advisory Group) juga mencatat 834 orang meninggal dunia dalam periode tahun 1999-2008.

Laos adalah negara yang paling banyak dibom di dunia. Sekitar 270 juta bom klaster dijatuhkan di negara tanpa garis pantai itu. Diperkirakan 30% dari bom tersebut tidak meledak dan menyimpan bahaya ledakan hingga saat ini. 10 dari 18 provinsi di Laos dinyatakan sebagai “terkontaminasi parah” oleh artileri yang tidak meledak. Ancaman itu sangat terasa menghambat pembangunan di sektor pertanian dan kehidupan anak-anak. UXOLAO, badan nasional Laos untuk artileri tidak meledak telah menjinakkan sekitar satu juta UXO, umumnya ranjau darat dan menyatakan 23.000 hektar lahan bebas ranjau. Ranjau darat sendiri saat ini sudah dilarang penggunaannya dengan ditanda tanganinya perjanjian Ottawa oleh 133 negara di tahun 1997.

Ranjau dan artileri tidak meledak lainnya bukanlah masalah yang besar bagi rakyat Indonesia. Tidak begitu halnya dengan di belahan dunia lain. Seorang juara dunia sepeda telah mengingatkan kita akan dampak kemanusiaan dari perang, bahkan jauh setelah perang itu berakhir.


(Goestarmono)

Friday, December 30, 2016

Pria Paruh Baya berpakaian Lycra

Keberhasilan balap sepeda Inggris hasil prinsip pencapaian kecil Sir Dave Brailsford dari pondasi yang dibentuk Peter Keen tidak hanya berdampak pada kegiatan sepeda kompetitif. Kepopuleran Bradley Wiggins dan Chris Froome setelah kemenangan di Tour de France dan atlet balap sepeda Inggris di disiplin lain berdampak juga pada gaya hidup orang Inggris pada umumnya.

Prestasi balap sepeda Inggris di dekade 2010-an banyak menginspirasi masyarakat negara tuan rumah Olimpiade 2012 itu. Olahraga sepeda, terutama sepeda jalan raya meningkat jumlah penggemarnya. Salah satu segmen yang mulai gemar bersepeda jalan raya adalah pria paruh baya dari kelas ekonomi menengah atas. Pria berumur 30 hingga 40 tahun yang sebelumnya menggemari hobi otomotif mulai beralih ke sepeda.

Tentu saja tren peniruan idola sepeda dimulai dari tampilan fisik. Pakaian seperti jersey tim profesional, sepatu, helm, hingga sepeda kelas profesional seperti Pinarello yang digunakan tim Sky laku keras. Fenomena ini ditangkap Michael Oliver, peneliti pemasaran dari Mintel yang melaporkan adanya peningkatan pesepeda pada segmen tersebut, dan mempopulerkan terminologi Middle Aged Men in Lycra (MAMIL) atau lelaki paruh baya berpakaian lycra, pakaian yang biasa digunakan atlet balap sepeda yang menempel ketat pada badan pembalap. Kata Mamil kini bahkan sudah termasuk dalam kamus bahasa Inggris terbitan Collins.

Apa yang membuat demam sepeda jalan raya hingga lelaki Inggris tergila-gila dengan pakaian ketat dan ritual lain pembalap sepeda profesional seperti mencukur bulu kaki dan meninggalkan hobi kendaraan bermotornya?

Selain prestasi balap sepeda Inggris ada faktor lain yang membuat warga Inggris demam olahraga sepeda. Sepeda jalan raya tahun 2010-an lebih mudah dikendarai dan lebih nyaman dibandingkan pendahulunya. Shifter yang sudah menyatu dengan tuas rem membuat tangan pesepeda tidak meninggalkan stang saat memindahkan gigi transmisi. Demikian pula rangka sepeda dengan teknologi yang maju dengan bobot yang ringan, aerodinamika, atau peredaman guncangan jalan.

Panitia kegiatan sepeda pun mulai melirik segmen ini, kegiatan paket liburan bersepeda banyak ditawarkan di seluruh belahan dunia. Balap sepeda terkemuka Tour de France pun menawarkan paket bersepeda mengikuti rute lomba tersebut. Di luar kegiatan tur, atau lomba, penggemar sepeda jalan raya juga sering melakukan group ride atau gowes bareng. Gowes bareng ini sering berjalan dalam kecepatan tinggi walau tidak setinggi kecepatan para pembalap profesional. Selain peralatan yang dibelinya, pesepeda ini juga memamerkan hasil latihan yang seringkali merupakan hasil konsultasi dengan pelatih profesional.

Bagaimana dengan di Indonesia? Tren yang terjadi di dunia menular ke tanah air, tidak terkecuali tren sepeda jalan raya. Di kota Bandung, group ride klasik yang sudah berjalan lama seperti group ride selasa pagi yang dimulai di jalan Nyland, atau group ride yang dikoordinir tim BHHH2 tetap berjalan dengan peserta yang meningkat, selain itu banyak pula group ride baru yang bermunculan. Di kota lain seperti Surabaya, group ride serupa juga sering dilakukan, salah satu pesertanya adalah Azrul Ananda, komentator balap Formula 1 di televisi yang rata-rata bersepeda 400 kilometer seminggu dalam kecepatan rata-rata di atas 27 kilometer per jam.

Tren Mamil ini juga menular ke kaum hawa. Pahlawan sepeda wanita seperti Victoria Pendleton, Lizzie Armitstead, hingga downhiller Rachel Atherton menginspirasi ibu-ibu di Britania Raya menjadi Middle Aged Mums in Lycra.

Apakah tren ini akan berjalan terus? Seperti halnya tren sepeda gunung tahun 1990-an dan fixed gear tahun 2000-an, diprediksi beberapa pehobi baru ini akan berhenti bersepeda untuk menekuni hobi lain. Walau begitu tren ini akan menyisakan penambahan jumlah pesepeda dan berperan untuk memperkenalkan masyarakat luas ke dunia sepeda.


(Goestarmono)

Friday, December 23, 2016

Pencapaian kecil Tim Sky

Sir Dave Brailsford
Tanggal 24 Juli minggu lalu Chris Froome berhasil tiba di Paris sebagai juara Tour de France ke-103 tahun 2016. Keberhasilan Chris Froome dan tim Sky yang menaunginya cukup fenomenal. Dalam lima tahun terakhir ajang yang dianggap puncak balap sepeda ini Chris Froome menjuarai tiga seri setelah tim Sky mengantarkan Sir Bradley Wiggins menjadi orang Britania pertama yang menjuarai Tour de France tahun 2012. Sebelum dekade 2010-an prestasi balap sepeda Inggris tidaklah istimewa. Ingatan terakhir prestasi balap sepeda Inggris adalah saat Chris Boardman dan Graeme Obree saling memecahkan rekor satu jam di tahun 1990-an.

Botol minum tim Sky dengan tutup yang berbeda untuk isi yang berbeda
Orang di balik kesuksesan tim Sky adalah orang yang sama di balik kesuksesan balap sepeda Inggris. Sir Dave Brailsford adalah direktur tim Sky yang juga menjadi direktur prestasi British Cycling dari 2003 hingga 2013. Di bawah kepemimpinannya balap sepeda Inggris meraih dua medali emas Olimpiade 2004, prestasi terbaik sejak 1908 dan dilanjutkan memimpin perolehan medali emas balap sepeda Olimpiade 2008 dan 2012. Pada masa kepemimpinannya Inggris memenangi 59 kejuaraan dunia balap sepeda di berbagai disiplin seperti BMX, sepeda gunung, track, dan jalan raya dan ratusan seri piala dunia dan kejuaraan bergengsi lainnya.

Prinsip Brailsford dalam mengembangkan balap sepeda Inggris terkenal dengan prinsip marginal gain atau pencapaian kecil. Prinsip tersebut adalah jika kita bisa memilah semua yang berpengaruh saat bersepeda dan memperbaikinya sebesar 1%, kita akan mendapat peningkatan yang signifikan saat semuanya disatukan.

Kumulasi dari pencapaian kecil
Pendekatan Brailsford ini terkenal saat Richie Porte dari tim Sky menolak tidur di hotel yang disediakan panitia Giro d’Italia 2015 untuk tidur di bus yang disiapkan tim sebagai hotel berjalan. Walaupun UCI akhirnya melarang praktek ini, awak tim Sky membawa bantal masing-masing pembalap dan membantu pegawai hotel merapikan kamar yang akan digunakan pembalapnya. Hal yang terkesan remeh seperti bagaimana mencuci tangan yang baik agar terhindar dari infeksi pun tidak luput dari perhatian Brailsford yang menggunakan dokter ahli untuk mengajari para pembalap dalam melakukannya. Keterlibatan psikolog untuk mendampingi para pembalap juga meningkatkan suasana hati para pembalap.

Salah satu komponen yang dilakukan perbaikan kecil
Dari sisi peralatan, tim Sky juga memilih mengembangkan peralatan sendiri dengan sponsor pemasok peralatan. Sepeda Pinarello, pakaian Rapha, komponen Shimano, sadel Fi’zi:k, helm Kask, hingga mobil pendamping Ford yang digunakan tim Sky tidak lepas dari pengembangan yang dilakukan tim.
Apa yang bisa dipelajari dari kesuksesan tim Sky? Prinsip Brailsford sebenarnya sudah tidak asing bagi kita. Kita mengenal pepatah sedikit demi sedikit lama lama menjadi bukit, yang pada dasarnya sama dengan pencapaian kecil Brailsford. Pencapaian (atau kegagalan) kecil seringkali tidak dihiraukan bahkan dianggap tidak terjadi. Tapi seiring waktu perbaikan itu menjadi kebiasaan dan kita bisa melihat perbedaan dari orang yang membuat keputusan sedikit lebih baik dalam kehidupan sehari-harinya.

Apakah pencapaian kecil itu hanya berlaku untuk kegiatan kompetitif? Untuk kegiatan non kompetitif prinsip ini bisa juga dilakukan. Tujuan yang hendak dicapai mungkin bukan menjadi yang tercepat, terjauh, atau terbaik seperti yang ingin dicapai pesepeda kompetitif, tapi tujuan lain seperti pengalaman, kesehatan, silaturahmi, rekreasi atau hal lain bisa dicapai tanpa harus mengalami gangguan dari hal kecil yang bisa menghambat tujuan itu.

Hasil dari akumulasi pencapaian kecil
Hal-hal kecil seperti memperbaiki sepeda yang rusak sesegera mungkin, berkemas sebelum bersepeda sejak jauh hari bisa membuat perbedaan antara nikmatnya bersepeda dan paniknya kita akibat ditinggal rekan seperjalanan. Begitu pula saat melakukan perjalanan, istirahat yang berlebihan bisa membuat otot yang keburu dingin sulit digerakkan. Waktu yang dikorbankan untuk istirahat yang berlebih bisa membuat kita bersepeda di matahari yang lebih terik, atau terpaksa bersepeda malam.


Walau penerapan prinsip pencapaian kecil ini terbukti menuai sukses, namun ada satu hal yang gagal dilakukan secara tepat oleh Dave Brailsford. Saat menerima tugas memimpin tim Sky tahun 2010 ia meramalkan tim ini akan sukses dalam jangka waktu lima tahun. Kenyataan membuktikan hanya dalam tiga tahun tim Sky sukses mengantarkan Sir Bradley Wiggins menjadi juara Tour de France, itupun disertai kesuksesan anak asuh Brailsford menyapu 8 medali emas Olimpiade Inggris di tahun yang sama.

(Goestarmono)

Friday, June 10, 2016

SunTour, Inovator yang Tenggelam

Inovasi adalah nyawa dari sebuah perusahaan. Begitu pula dengan perusahaan yang bergerak di bidang sepeda. SunTour adalah salah satu perusahaan tersebut. Nama SunTour terangkat, dan terhempas, karena inovasi yang dilakukan, dan tidak dilakukannya.

Berawal dari Maeda Iron Works yang membuat sproket dan freewheel sepeda sejak 1912, nama SunTour hadir dalam bentuk derailleur tahun 1956. Ide produk ini lahir saat Junzo Kawai pergi ke Eropa tahun 1949. Saat itu derailleur keluaran SunTour dan pabrikan Jepang lain masih mirip derailleur buatan Perancis seperti Simplex, Huret, atau CycloTourist.

Di tahun 1964, Nobuo Ozaki, salah seorang perekayasa SunTour membuat SunTour Grand Prix, derailleur dengan mekanisme paralel miring seperti derailleur yang beredar saat ini. Sebelum Grand Prix, derailleur yang ada menggunakan paralelogram yang tegak lurus roda. Desain yang dipatenkan ini membuat jarak antara puli penuntun derailleur dan freewheel tetap sama di segala posisi. Desain paralelogram miring ini membuat SunTour menjadi pembuat derailleur  dengan mekanisme terbaik satu-satunya hingga paten desain ini kadaluarsa di tahun 1984.

Tahun 1969, JASCA (Japan Sports Cycle Association), asosiasi yang menaungi pabrikan komponen sepeda Jepang pecah menjadi Japan Bicycle Parts Manufacturers Group (JEX) dengan SunTour sebagai salah satu anggotanya, dan Japan Bicycle Manufacturers (JBM) yang salah satu anggotanya adalah Shimano. Berbeda dengan JBM, JEX tidak memperbolehkan anggotanya yang terdiri dari Dia Compe (rem), HKK (rantai), Maeda-SunTour (derailleur dan freewheel), Nankai (rem tromol), Sugino (crank), dan Taihei (sadel) untuk bersaing dengan sesamanya dengan memproduksi komponen yang sudah menjadi spesialisasi anggota yang lain.

Di tahun 1969, SunTour juga pabrikan komponen sepeda pertama yang menggunakan transmisi terindeks, bukan cuma mengandalkan friksi seperti transmisi sepeda pendahulunya. Di tahun yang sama SunTour juga membuat hub dengan mekanisme freewheel atau saat ini dikenal dengan istilah cassette hub. Walaupun inovasi tersebut terbukti menjadi keharusan saat ini, SunTour tidak melanjutkan penjualan produk ini.

Derailleur SunTour Grand Prix
Pada awal dekade 1980-an, tren komponen sepeda adalah penggabungan komponen dalam bentuk grupset. Ini terjadi akibat perkembangan Shimano yang luar biasa dan mulai memproduksi komponen di luar derailleur, hub, dan freewheel. SunTour yang terikat aturan main JEX menggandeng sesama anggota JEX untuk menawarkan grupset, walau pengembangan yang dilakukan menjadi kurang optimal akibat banyaknya perusahaan yang terlibat.

Di dekade ini pun SunTour menjadi komponen satu-satunya untuk sepeda jenis baru yang baru mulai diproduksi massal, sepeda gunung. Ini menjadi keuntungan SunTour hingga akhirnya Shimano merilis Deore XT tahun 1983. Inovasi lain untuk sepeda gunung yang fenomenal adalah Micro Drive yang dirilis tahun 1992. Penggunaan rasio gigi yang lebih kecil membuat komponen SunTour lebih ringan dan ringkas dibanding pesaingnya. Inovasi ini pun ditiru Shimano beberapa tahun kemudian.

Grupset MicroDrive, salah satu inovasi SunTour
Di dekade 1990-an nama SunTour mulai meredup. Bermula dari harga jual produk yang lebih rendah, SunTour mengalami kesulitan dalam anggaran riset dan pengembangan. Harga jual produk SunTour lebih rendah dari pesaingnya, seperti Shimano, bahkan hingga setengah harga pesaingnya dari Eropa. Walaupun daya beli pesepeda mampu untuk membeli produk dengan kualitas SunTour dengan harga lebih tinggi. Keputusan SunTour menjual dengan harga produksi ditambah sedikit keuntungan membuat perusahaan itu tertinggal dalam riset dan pengembangan. Untuk mengkompensasi hal itu, SunTour membeli tiga lisensi paten, sistem transmisi depan dari Browning, sistem injeksi gemuk dari WTB, dan sistem pengereman dari Pedersen. Ketiga inovasi ini, walaupun canggih dan berperforma tinggi, ternyata produksinya memakan biaya tinggi dan sangat kompleks sehingga SunTour mengalami kerugian besar.

Inovasi Crank Browning yang patennya dibeli SunTour
Tahun 1990-an, semakin sedikit sepeda menggunakan komponen SunTour, hingga SunTour terbelit hutang. Di pertengahan dekade tersebut Mori Industries, Inc. yang sebelumnya membeli Sakae Ringyo membeli Maeda-SunTour dan menggabungkan kedua perusahaan tersebut. Komponen sepeda SunTour pun berangsur hilang dari peredaran hingga sama sekali hilang di tahun 2000. Saat ini merk SunTour ada dalam bentuk produk suspensi SR SunTour hasil produksi merger SunTour dan Sakae Ringyo. Sementara itu, di dunia tinggal tersisa tiga pabrikan grupset sepeda, Campagnolo, Shimano, dan pendatang baru, SRAM.


(Goestarmono)









Friday, June 3, 2016

Wanita dan Sepeda

Peserta Srikandi Inspirasi Bagi Negeri (foto: greeners.co)
Kegiatan sepeda adalah kegiatan fisik yang baik dilakukan oleh pria dan wanita. Namun sifatnya yang berada di luar ruangan dan membutuhkan fisik yang prima mengurangi niat bersepeda banyak kaum hawa. Perkembangan akhir-akhir ini berkata sebaliknya. Semakin banyak kaum wanita yang bersepeda, baik dalam kegiatan kompetitif, petualangan, rekreasi, atau utilitas transportasi sehari-hari.
Pembicaraan sepeda dan wanita di Indonesia banyak dikaitkan dengan kegiatan Srikandi Inspirasi Bagi Negeri yang digagas Bike 2 Work Indonesia. Kegiatan yang mulai dilakukan tahun 2011 ini menghadirkan pesepeda wanita yang melakukan perjalanan ratusan kilometer menjelajahi indahnya pemandangan Indonesia.

Aristi Prajwalita saat bersepeda keliling Eropa (dok. Aristi)
Selain kegiatan, individu wanita pesepeda di Indonesia juga banyak dikenal luas. Dalam kompetisi sepeda, nama seperti Nurhayati dan Risa Suseanty dikenal sebagai atlet berprestasi yang tak segan membagi ilmunya kepada sesama pesepeda, terutama pesepeda wanita. Dalam kegiatan petualangan, Aristi Prajwalita, seorang dokter yang telah melanglang buana di berbagai benua juga sudah dikenal di kalangan penghobi turing bersepeda.

Bagaimana dengan di dunia internasional? Memang di negara maju pesepeda wanita bukanlah pemandangan yang aneh. Sebagai pelaju (commuter), wanita di Belanda, Jerman, dan negara Eropa lainnya membanjiri jalanan dengan sepedanya. Di Jepang bahkan dikenal jenis sepeda mamachari, atau sepeda para ibu. Mamachari adalah sepeda dengan profil rendah dengan kemampuan membawa barang yang baik. Bukan pemandangan aneh seorang ibu membawa belanjaan dan anaknya di kursi mamachari di Jepang. Terkadang dua orang anak sekaligus dibawa tanpa kesulitan berarti dan sepeda tetap dikendarai dengan stabil tanpa membahayakan mereka dan pengguna jalan lain.
Di negara maju juga sudah tidak terhitung wanita yang berstatus legenda balap sepeda seperti Jeannie Longo dan Marianne Vos untuk balap sepeda jalan raya, atau Juliana Furtado dan Anne-Caroline Chausson untuk sepeda gunung.

Juliana Buhring, wanita pertama yang bersepeda mengelilingi dunia
Bagaimana dengan kiprah wanita dalam sepeda petualangan? Untuk hal ini kisah Juliana Buhring dapat diangkat. Dalam bukunya “Not Without My Sister” , Juliana menceritakan tentang kehidupan masa kecilnya yang ditinggalkan orang tuanya dalam sebuah sekte keagamaan. Petualangan bersepedanya diawali saat ia berusaha mengumpulkan dana untuk Safe Passage Foundation, yayasan yang ia ikuti untuk membantu anak-anak yang lahir dan dibesarkan di sekte keagamaan, kelompok terisolasi, atau berpaham ekstrem. Memulai perjalanannya di Napoli, ia menempuh perjalanan 29.000 kilometer dalam 152 hari, yang membuatnya menjadi pesepeda wanita pertama yang mengelilingi dunia menurut Guiness Book of Record. Perjalanan ini ia tuangkan dalam buku “This Road I Ride”. Setelah menyelesaikan perjalanan keliling dunia, ia mengikuti lomba Transcontinental di Eropa, dan Trans Am di Amerika. Keduanya adalah lomba melintasi benua secara mandiri tanpa dukungan selain yang dapat dibawa atau dibeli oleh masing-masing pembalap.

Maria Leijerstam, orang pertama bersepeda ke Kutub Selatan
Prestasi lain juga dicatat oleh Maria Leijerstam, seorang wanita Wales. Di akhir tahun 2013 ia menjadi orang pertama yang mencapai kutub selatan dengan sepeda. Dalam pencapaian prestasinya itu, ia mengalahkan beberapa pria yang juga mencoba melakukan hal yang sama. Saat ini ia memimpin perusahaan petualangan di Wales, negara asalnya.

Di negara berkembang, memang belum banyak tokoh pesepeda wanita. Bahkan di beberapa negara, wanita masih tabu untuk bepergian sendiri, apapun sarana transportasinya. Shannon Galpin, seorang Amerika Serikat yang selamat dari tindak kekerasan seksual saat ini berjuang untuk membuka mata dunia melalui organisasinya, Mountain2Mountain. Perjuangannya mendorong wanita di Afghanistan untuk bersepeda, termasuk mendukung tim nasional wanita Afghanistan yang ia ceritakan melalui sebuah film pendek, Afghan Cycle. Ia bahkan dinominasikan sebagai pemenang Nobel Perdamaian tahun 2016 ini.

Shannon Galpin (foto: Tony Di Zinno)
Itu dari sisi pengguna sepeda. Bagaimana dengan industri sepeda sendiri? Banyak pabrikan sepeda membuat satu lini khusus untuk produk yang dikembangkan untuk wanita, bahkan beberapa merk dibuat terpisah dari merk induknya seperti Liv untuk produk wanita dari Giant dan Juliana dari Santa Cruz. Di balik produk-produk tersebut, para wanita juga menyumbangkan buah pemikiran untuk kesuksesannya, dari mulai jajaran atas manajemen seperti Elisa Walk dari Liv, perekayasa kunci seperti Mio Suzuki, Perekayasa Analis Aerodinamika Trek, hingga pemasar dan berbagai peran lainnya di industri sepeda sudah banyak diisi kaum wanita. Bahkan saat QBP, salah satu distributor sepeda di Amerika Serikat membuka kursus untuk mekanik sepeda wanita, tidak kurang dari 300 calon peserta mendaftar dari seluruh Amerika Serikat.

Mamachari, sepeda khas Jepang
Memang dunia sepeda menawarkan kesetaraan di antara penggunanya. Salah satu kesetaraan yang dimaksud juga termasuk kesetaraan gender


(Goestarmono)

Friday, May 27, 2016

Paris Roubaix “Neraka di Utara”

Sean Kelly, pemenang Paris-Roubaix 1984 (foto: Aaron Cripps)
Buruknya infrastruktur jalan di suatu daerah umumnya menjadi aib bagi warga atau pemerintah daerah tersebut. Tapi bagaimana jika sejarah dan ajang olahraga bisa membalikkan aib tersebut menjadi legenda dalam ajang lomba sepeda. Paris-Roubaix, sebuah lomba yang berlangsung tiap musim semi mendapat julukan “Neraka di Utara”, dan menjadi lomba yang ditunggu penggemar sepeda.

Paris-Roubaix kembali diadakan tanggal 10 April ini. 120 tahun yang lalu, Theodore Vienne dan Maurice Perez, pengusaha tekstil dari Roubaix, sekarang pinggir kota Lille, Perancis ingin mempromosikan Velodrome yang mereka bangun serta mempromosikan Roubaix sebagai tujuan wisata dan membangkitkan ekonomi kota. Kedua orang ini menghubungi Paul Rousseau, direktur koran Le Velo, yang juga menyelenggarakan lomba Bordeaux-Paris yang terkenal saat itu.

Salah satu sektor jalan berbatu di Paris-Roubaix (foto: Road Cycling UK)
Sebenarnya balapan ini hampir tidak terlaksana seandainya Vienne dan Perez gagal memberi akomodasi yang baik untuk Victor Breyer. Breyer, yang diutus Rousseau untuk mensurvei lintasan lomba sebenarnya sudah memutuskan untuk membatalkan lomba ini karena beratnya medan lomba. Ia tiba di Roubaix dalam keadaan lelah yang teramat sangat dengan badan yang dikotori lumpur. Jamuan dari tuan rumah di Roubaix lah yang membuatnya berubah pikiran. Walaupun saat ini rute Paris-Roubaix dikenal dengan kondisi lintasannya yang buruk, sebenarnya pada tahun-tahun awal lomba hal itu dinilai wajar. Kondisi permukaan jalan berbatu (cobblestone) memang menjadi permukaan jalan terbaik yang digunakan di seluruh dunia, bahkan untuk jalan utama di negara maju sekalipun.

John Degenkolb, juara Paris-Roubaix 2015 (foto: Roberto Bettini)
Julukan “Neraka di Utara” mulai disematkan kepada Paris-Roubaix setelah Perang Dunia I. Tahun 1919, selepas Perang Dunia I, panitia ingin menghidupkan kembali Paris-Roubaix. Dengan kondisi telekomunikasi yang hancur, panitia dari Paris bahkan tidak tahu jika kota Roubaix masih ada atau hancur total akibat perang. Tim survei yang diberangkatkan untuk merintis lomba menemukan kondisi jalur lomba hancur akibat perang. Pohon yang terbakar, bau bangkai ternak yang membusuk, serta lubang bekas pengeboman dan mortir menjadi pemandangan yang semakin mewarnai perjalanan mereka semakin mendekati Roubaix. Walau begitu, lomba di tahun 1919 ini tetap dilaksanakan dengan keadaan lintasan pasca perang yang sangat buruk.

Tabrakan di Paris-Roubaix 2014 (foto: Road Cycling UK)
Setelah Perang Dunia II, teknologi pembuatan jalan semakin baik dan aspal mulus mulai menggantikan jalan berbatu. Walau begitu, Paris Roubaix tetap mempertahankan ciri khasnya melalui jalanan berbatu hingga di tahun 1960-an pemerintah daerah yang dilalui Paris-Roubaix mulai mengaspal rute lomba. Albert Bouvet, ketua panitia lomba saat itu tidak menyukainya. Baginya lomba yang berlangsung di aspal mulus berlangsung monoton dengan hasil yang ditentukan oleh sprint massal. Di sisi lain, pemerintah daerah yang dilalui merasa malu karena lomba ini seakan memamerkan buruknya infrastruktur jalan. 

John Degenkolb, juara Paris-Roubaix 2015 dengan piala batu jalanan (foto: Cycling Weekly)
Bouvet akhirnya mendirikan Les Amis de Paris-Roubaix (teman Paris-Roubaix) yang bertujuan mencari dan merawat jalanan berbatu yang tersisa. Memang jalan berbatulah yang membuat Paris-Roubaix mendapat tempat khusus di hati penggemar balap sepeda. Tugas Teman Paris-Roubaix pun bertambah karena banyak penggemar lomba ini yang mencongkel batuan jalan (sette) untuk dijadikan cendera mata.

Buruknya lintasan lomba pun membuat sepeda yang digunakan di lomba ini menarik untuk diamati. Hanya di lomba inilah, pembalap sepeda jalan raya menggunakan sepeda yang dirancang untuk kenyamanan dan peredaman guncangan. Salah satu dari komponen yang dibuat khusus untuk Paris-Roubaix yang terkenal adalah penggunaan suspensi depan Rockshox oleh Greg Lemond tahun 1991. Bianchi dan Clark-Kent mengeluarkan sepeda bersuspensi ganda di tahun 1994. Kegagalan sepeda suspensi ganda di lomba tahun 1994 ini mengakhiri penggunaan suspensi aktif di Paris-Roubaix dan lomba balap sepeda profesional. Tahun 2005, pabrikan sepeda Trek membuat purwarupa sepeda dengan suspensi belakang yang digunakan oleh Viatcheslov Ekimov. Saat ini sepeda yang digunakan di lomba ini dengan suspensi aktif adalah Pinarello Dogma KS-8 yang digunakan tim Sky. Umumnya pabrikan sepeda menggunakan suspensi pasif berupa material serat karbon yang didesain fleksibel.

Di antara kemudahan dan kemajuan infrastruktur jalan, Paris-Roubaix mendapat tempat di kalangan penggemar sepeda. Sebagai lomba yang monumental, ia juga menjadi pengingat bahwa Perancis Utara sempat hancur akibat perang. Selain itu, ia juga menjadi saksi bisu bagaimana jalanan di masa abad 19 dibuat.


(Goestarmono)

Friday, September 4, 2015

Perjalanan 150 Kilometer dalam Sehari

Perjalanan jarak jauh menjadi salah satu kegiatan yang banyak dilakukan pesepeda saat ini. Bulan Agustus ini salah satu media sosial melakukan tantangan bersepeda sejauh 150 kilometer. Tantangan itu, dan kepenasaranan atas tanjakan Monteng di kawasan Gunung Guntur yang memiliki kemiringan rata-rata 13% membuat saya mencoba bersepeda menuju Garut via Monteng di perbatasan Kabupaten Bandung dan Garut.

Berangkat dari rumah pukul 9:00 WIB di Buahbatu, perjalanan diarahkan menuju Cicalengka melalui Jalan Raya Timur Cicalengka. Seperti biasa kemacetan mewarnai perjalanan di Jalan Soekarno-Hatta. Sengaja saya melalui jalur lambat yang memang seharusnya dilintasi pesepeda. Selain menjaga ketertiban lalu lintas, saya juga tidak ingin terintimidasi oleh kecepatan tinggi mobil dan kendaraan besar lainnya yang melaju di jalur cepat. Konsekuensi dari pilihan itu memang beberapa kali saya terpaksa menekan tuas rem untuk menghindari sepeda motor yang berjalan lambat.

Kemacetan terasa mengganggu selepas bundaran Cibiru hingga simpang Jatinangor, di sini lalu lintas mobil, sepeda motor dan lainnya berbaur sehingga sangat sulit menjaga kecepatan konstan yang nyaman untuk bersepeda jauh. Jalan yang cukup sepi mulai saya nikmati antara Cicalengka dan Majalaya. Dengan sepeda yang dirakit untuk kegiatan turing, saya bisa mengembangkan kecepatan hingga 25 kilometer per jam. Angin yang berhembus dari depan sejak awal perjalanan tidak begitu mengganggu lagi karena saya bisa memegang stang di bagian bawah untuk mengurangi hambatan angin.

Tiba di Majalaya, waktu menunjukkan pukul 11:45. Terus terang saya masih belum yakin dengan keadaan logistik jalur beberapa kilometer ke depan sehingga saya memutuskan untuk makan siang serta mengisi penuh kedua botol bidon saya di sini.

Tantangan sebenarnya baru dimulai setelah istirahat makan siang tersebut. Jarak yang baru mencapai 50 kilometer membuat saya ragu, apalagi rute yang menanjak menuju Ibun hingga berakhir di PLTP Kamojang mengharuskan saya menanjak setinggi 800 meter. Perbedaan ketinggian kecamatan Majalaya di 700 meter dan Kamojang di 1.500 meter di atas permukaan laut hanya ditempuh dalam jarak kurang dari 10 kilometer.

Beratnya tanjakan, terutama mulai Paseh hingga tanjakan berakhir di Monteng, sebelum pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) Kamojang yang berkisar 12% lebih membuat kelelahan mengalahkan semangat untuk tetap mengayuh pedal. Teringat akan masih jauhnya perjalanan, saya memutuskan untuk menuntun sepeda, setidaknya 3 kilometer per jam kecepatan menuntun masih bisa mencicil jarak yang harus ditempuh.

Tapi jurus menuntun itu pun ternyata sulit dilakukan di Tanjakan Monteng. Di beberapa tempat, kemiringan yang mencapai 30% membuat saya seakan mendorong sepeda ke atas tembok, umumnya tanjakan seberat ini hanya ada di medan offroad. Setidaknya di medan offroad, sepatu sepeda masih bisa mendapatkan traksi. Di jalan aspal dengan sedikit pasir di atasnya, beberapa kali sepatu kembali merosot ke bawah.

Perjuangan ini akhirnya selesai saat saya menjumpai tanda-tanda instalasi PLTP Kamojang. Terlihatnya plang kawasan pembangkit listrik yang berada di kawasan konservasi Gunung Guntur ini seakan lunas membayar kesulitan perjalanan yang ditempuh. Pemandangan ke depan yang menampakkan langit biru menggantikan lerengan gunung seakan mengucapkan selamat atas perjuanganku.

Perjalanan dilanjutkan menuju kota Garut. Rencana menengok sentra kerajinan kulit Sukaregang tidak jadi dilakukan karena masalah waktu. Perjalanan dilanjutkan menuju Nagreg, setidaknya tanjakan ini lebih mudah daripada kembali menanjak lewat Samarang, Garut. Jalur mendatar dan sedikit menurun yang mengantarkan perjalanan hingga tanjakan Nagreg saya gunakan untuk mengumpulkan tenaga.

Badan sudah cukup lelah saat jalan layang Nagreg nampak di depan mata. Jam yang hampir menunjukkan pukul 5 sore membuat saya memaksa untuk mengayuh sepeda menembus tanjakan. Target saya untuk menyelesaikan perjalanan sebelum matahari tenggelam gagal sudah.
Sebuah minimarket di Rancaekek menjadi tempat istirahat terakhir saya di perjalanan ini. Jarak ke kota Bandung yang sekitar 25 kilometer lagi membutuhkan mentalitas bersepeda yang lain dari yang diperlukan di perjalanan sebelumnya. Sudah tidak diperlukan lagi tenaga yang besar untuk menanjak dan posisi bersepeda aerodinamis untuk mengurangi terpaan angin.

Lalu lintas kendaraan bermotor pinggiran kota Bandung dipadukan dengan lelahnya badan ini membuat saya harus bisa menjaga momentum untuk bisa pulang. Sedikit menyisakan jarak dengan kendaraan bermotor di depan harus dilakukan sehingga saya tidak harus mengayuh lagi dari awal saat kendaraan bermotor itu berhenti tiba-tiba. Perjalanan berakhir sekitar jam 8 malam, menempuh jarak 150 kilometer dalam sehari.


(Goestarmono, dimuat di Back2boseh Pikiran Rakyat 23 Agustus 2015)

Friday, August 14, 2015

Marzocchi

Komponen peredam guncangan atau suspensi sudah menjadi identitas dari sepeda gunung. Salah satu produsen awal suspensi untuk sepeda adalah Marzocchi. Berbeda dengan pionir suspensi sepeda lain seperti Rockshox, Manitou, atau RST, yang merupakan perusahaan baru, Marzocchi adalah produsen suspensi otomotif yang membuat suspensi sepeda. Ini baru diikuti oleh Fox Suspension di pertengahan dekade 2000-an.

Sejarah Marzocchi dimulai tahun 1949 di via Zannoni, Bologna, Italia. Di tahun itu kakak beradik 
Stefano dan Guglielmo Marzocchi memproduksi suspensi sepeda motor di ruang bawah tanah rumah mereka. Setelah sebelumnya mereka bekerja sebagai desainer sepeda motor, mereka memutuskan untuk mendirikan  Marzocchi dan lebih fokus kepada bisnis pompa hidrolik untuk industri dan suspensi sepeda motor.

Marzocchi STAR, platform pertama Marzocchi
Dalam perjalanannya, Marzocchi menjadi produsen komponen orisinil untuk sepeda motor Ducati, BMW, Cagiva, KTM, dan Aprilia. Selain menjadi produsen komponen orisinil, Marzocchi juga terjun ke dalam dunia kompetisi. Marzocchi adalah suspensi yang digunakan legenda balap motor, Giacomo Agostini. Marzocchi juga suspensi yang banyak digunakan dalam ajang reli Paris-Dakar, selain juga digunakan oleh tim Formula 1 Ferrari di tahun 1980-an.

Kiprah Marzocchi dimulai di awal sejarah penggunaan suspensi sepeda. Di tahun 1989, saat Paul Turner meluncurkan produknya Rockshox RS-1, salah satu distributor Marzocchi memperlihatkan produk tersebut pada Andrea Pierantoni, direktur pemasaran Marzocchi. Tahun itu juga, dengan kemampuan produksi Marzocchi, diluncurkan garpu suspensi pertama, Marzocchi STAR. Garpu tersebut menggunakan pegas angin dan peredam oli.

Marzocchi RAC
Desain STAR tidak bertahan lama dan digantikan dengan seri XC, mulai dari XC51 hingga XC700, masih dengan pegas angin dan peredaman oli, namun dengan bentuk slider yang tirus.
Tahun 1997, Marzocchi meluncurkan seri Bomber. Seri ini menggunakan teknologi suspensi yang biasa digunakan sepeda motor masa itu, dan menjadi dasar garpu suspensi sepeda modern. Teknologi itu adalah penggunaan pegas ulir. Seri ini juga menawarkan jarak main suspensi 100 mm saat suspensi sepeda lain masih berkutat di jarak main suspensi 30-50 mm.

Marzocchi Super Monster, garpu downhill terbesar yang pernah diproduksi massal
Di tahun 2000, Marzocchi membuat garpu suspensi pertama dari bahan serat karbon. Marzocchi RAC dibuat karena keluhan konsumen atas beratnya garpu cross country Marzocchi. Namun harga dari suspensi dengan desain upside down yang terlalu mahal membuat seri ini digantikan seri Marathon yang memulai debutnya di Olimpiade 2000.

Kekuatan Marzocchi adalah dalam disiplin sepeda gunung gravitasi seperti downhill dan freeride. Garpu Marzocchi menempel di sepeda yang digunakan hucker yang banyak melakukan aksinya di awal milenia ini. Salah satu produk mereka, Monster T dengan jarak main 300 mm, lebih tinggi dari yang umum digunakan saat ini yaitu 200 mm.

Suspensi yang kekar itu digunakan untuk melakukan hucking atau terjun bebas dengan ketinggian hingga 18 meter. Pertengahan dekade 2000-an memang puncak dari kekuatan sepeda, berbarengan dengan perpindahan tren sepeda downhill, dari kecepatan menjadi vertical drop, sebelum akhirnya gabungan keduanya seperti yang terlihat sekarang. Untuk keperluan balap downhill, Marzocchi mengandalkan Shiver dan penerusnya, 888.

Marzocchi juga suspensi yang banyak digunakan pesepeda gunung Kanada, mulai dari pembalap cross country seperti Alison Sydor, pemegang medali perak olimpiade, hingga freerider seperti Wade Simmons saat kiblat sepeda gunung mulai bergeser ke sana.

Marzocchi juga tidak pernah membuat kesalahan dengan membuat garpu suspensi dengan pegas karet, kekeliruan yang dilakukan oleh semua pabrikan suspensi sepeda di dekade 1990-an, saat teknologi suspensi sepeda masih mencari bentuknya.


Tahun 2008, Marzocchi diakuisisi Tenneco, produsen suku cadang otomotif yang juga memiliki beberapa merk suspensi seperti Monroe dan Rancho. Kesulitan ekonomi dan kurang optimalnya manajemen membuat Tenneco  saat ini berniat menjual Marzocchi kembali.

(Goestarmono, dimuat di Back2Boseh Pikiran Rakyat, 26 Juli 1025)