Showing posts with label bicycle ride. Show all posts
Showing posts with label bicycle ride. Show all posts

Friday, March 24, 2017

Curug Batu Templek

Batu Templek atau Slate adalah salah satu bahan bangunan dekoratif yang banyak digunakan. Bahan tersebut didapat dengan cara ditambang. Beberapa lokasi penambangan batu templek berada di sekitaran Bandung, salah satunya ada di Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung.
Sesuai namanya, Curug Batu Templek sebelumnya adalah tempat penambangan batu templek. Bahkan konon penambangan masih dilakukan walau kegiatan wisata mulai mengurangi kegiatan penambangan.

Batu Templek sendiri adalah batuan metamorf dari sedimen lumpur. Bentuk lempeng atau templek terjadi akibat tekanan terjadinya beberapa pelapisan dan gesekan lempeng tektonik selama proses kejadiannya.

Dengan ketinggian 940 meter di atas permukaan laut, lokasi ini menyajikan tanjakan yang moderat dicapai dari kota Bandung yang berada sekitar 700 meter di atas permukaan laut. Dalam perjalanan ini, penulis mengajak istri dan dua anak perempuan sekalian mengenalkan kegiatan luar ruang. Perjalanan dilakukan dengan sebuah sepeda tandem yang dilengkapi dua kursi anak.

Salah satu objek yang dilalui dalam perjalanan menuju Curug Batu Templek adalah Taman Abdi Negara. Taman ini sebelumnya adalah TPA Pasir Impun yang berhenti beroperasi Februari 1999 dan menjadi tempat akhir timbunan sampah Kota Bandung selama 10 tahun. Bisa dibayangkan bahwa 20 tahun yang lalu suasana di Pasir Impun seperti Sarimukti di Bandung Barat saat ini dan sebentar lagi berpindah ke Legok Nangka di daerah Nagrek, dengan bersliwerannya truk sampah. Suatu hal yang tidak terbayangkan dengan banyaknya pemukiman pada saat ini.

Tanjakan harus dihadapi sejak kami berbelok dari jalan raya Ujungberung atau Jl. AH Nasution di dekat LP Sukamiskin. Pada umumnya tanjakan masih bisa dilalui dengan dikayuh walau dua kali sepeda terpaksa didorong. Jarak 4 kilometer dengan elevasi 238 meter tersebut kami tempuh dalam waktu satu jam.

Di tempat tujuan, kami beristirahat dan membiarkan anak-anak menjelajah daerah sekitar air terjun. Musim hujan membuat air terjun berwarna coklat membawa lumpur. Fasilitas di lokasi cukup memadai walau masih bisa ditingkatkan. Fasilitas seperti toilet mengandalkan warung lokal. Demikian pula tempat beristirahat berupa tempat duduk yang masih kurang pada saat pengunjung sedang ramai.

Tempat ini bisa direkomendasikan sebagai tujuan bersepeda yang cukup dekat dengan kota Bandung. Walau begitu lokasi yang tidak begitu luas membuat kekhawatiran terlalu banyaknya pengunjung yang mendatangi tempat ini bisa mengurangi pengalaman wisatawan menikmati Curug Batu Templek.


(Goestarmono)

Friday, September 18, 2015

Touring Cepat Gaya Josh Ibbett

Berbeda dengan lomba sepeda yang lain, Transcontinental Bike Race mengharuskan peserta untuk membalap tanpa dukungan dari pihak luar sama sekali. Semua perlengkapan yang digunakan harus dibawa peserta atau dibeli di sepanjang perjalanan. Aturan lomba seperti ini membuat pesepeda lain dapat meniru peralatan yang digunakan peserta untuk kegiatan bersepedanya.

Tahun ini juara bertahan dua kali Kristof Allegeart tidak turut serta, runner up tahun lalu Josh Ibbett, yang juga brand manager Hunt Wheels menjuarai event balapan melintasi benua Eropa. Ia menempuh jarak 4.239 kilometer dalam 9 hari 23 jam dan 54 menit.

Dalam menempuh jarak lomba tersebut, Josh membawa perlengkapannya sendiri tanpa mobil pendukung. Bagaimana Josh melakukan perjalanan yang cukup panjang itu secara mandiri namun tetap mempertahankan kecepatan yang cukup tinggi? Bagaimana Josh membangun sepedanya secara efisien setelah tahun lalu ia mempelajari beberapa hal yang bisa diperbaikinya hingga memenangi lomba ini?

Sepeda yang digunakan Josh dibangun dari rangka sepeda Mason Definition keluaran Mason Cycle. Mason Cycle memang baru berumur setahun, setelah sebelumnya Dominique Mason bekerja sebagai brand manager pabrikan sepeda lain. Terbuat dari Aluminum dan garpu serat karbon, rangka sepeda ini hanya bisa menggunakan rem cakram. Tahun lalu Josh menggunakan rem kaliper namun cuaca buruk membuat Josh sering mengganti kampas rem, serta kabel yang macet membuat tangannya lelah. Penggunaan rem cakram juga membuat ia dapat menggunakan ban tubeless Schwalbe One berukuran 28 milimeter. Ban tubeless berukuran relatif besar diperlukan mengingat Josh harus melintasi jalan berkerikil di Strada dell’Assietta serta jalan yang masih buruk di Albania dan Bulgaria.

Kelelahan juga membuat Josh memilih menggunakan transmisi elektronik Shimano Ultegra Di2. Tahun lalu ia menggunakan transmisi mekanik, namun putusnya kabel shifter membuatnya tidak dapat memindahkan rasio giginya dari Albania hingga Turki. Rasio gigi yang digunakan adalah gir 52/36 dan cassette 12-25, yang cukup berat bagi pesepeda umum, namun diperlukan agar kecepatan Josh tidak turun drastis saat menjumpai tanjakan.

Komponen lain yang digunakan adalah komponen orisinil sepeda Mason yang terbuat dari Aluminum, kecuali seatpost yang terbuat dari serat karbon. Josh memilih menggunakan Aluminum, karena jalan yang dilalui tidak semuanya baik, serta kelelahan dalam melintasi benua Eropa membuatnya banyak menjatuhkan sepeda ke lantai yang akan menyebabkan gesekan dan mengurangi kekuatan komponen serat karbon. Penggunaan serat karbon pada seatpost mengurangi getaran jalan lebih baik.

Saat berlomba dalam jarak ribuan kilometer, kenyamanan adalah prioritas utama. Josh membangun sepedanya dengan memasang sadel dan stang khusus time trial untuk mendapatkan posisi bersepeda time trial. Walaupun ada beberapa tanjakan yang berat, termasuk Gunung Ventoux, mayoritas perjalanan menembus benua Eropa adalah melintasi jalanan datar dan sering melawan arah angin.
Kebutuhan daya listrik untuk penggunaan alat navigasi dan lampu untuk perjalanan malam juga harus diatur dengan baik. Jika tahun lalu ia menggunakan hub dinamo, tahun ini menggunakan hub biasa. Gawai yang paling menyedot listrik adalah peralatan navigasi GPS, tahun ini ia menggunakan alat navigasi yang menggunakan baterai AA. Untuk perjalanan malam ia menggunakan lampu Exposure Toro, digunakan dalam daya paling rendah membuatnya bisa bertahan 9 malam. Pengisian ulang daya listrik dilakukan saat Josh beristirahat makan dan tidur, memanfaatkan pasokan listrik di cafe yang ia datangi.

Josh tidak membawa banyak peralatan akomodasi. Bagaimanapun Transcontinental adalah sebuah balapan, sehingga ia hanya membawa sikat dan pasta gigi dalam perjalanan ini. Ia hanya membawa sleeping bag untuk tidur, dengan anggapan jika ia berusaha cukup keras dan cukup lelah, maka ia tidak akan menemui kesulitan untuk tidur di manapun.

Untuk peralatan perbaikan sepeda ia membawa peralatan standar seperti mini pump, multi tool, dan penambal ban, termasuk juga charger untuk gawai dan transmisi elektronik.

Semua peralatan itu ia bawa dalam tas rangka sepeda. Badan Josh yang tinggi membuatnya dapat menggunakan tas rangka berukuran besar di rangka sepedanya. Besarnya tas keluaran Miss Grape dari Italia ini membuat semua bawaannya bisa masuk ke dalam tas rangka ini.

Pengaturan seperti yang dilakukan Josh Ibbett dalam mengikuti Transcontinental Bike Race ini mungkin cocok sebagai alternatif kegiatan turing sepeda. Dengan sepeda yang lebih ringan dan lebih nyaman, setidaknya bisa menyingkat perjalanan turing sepeda atau memperjauh penjelajahan bersepeda.

(Goestarmono)

Friday, September 4, 2015

Perjalanan 150 Kilometer dalam Sehari

Perjalanan jarak jauh menjadi salah satu kegiatan yang banyak dilakukan pesepeda saat ini. Bulan Agustus ini salah satu media sosial melakukan tantangan bersepeda sejauh 150 kilometer. Tantangan itu, dan kepenasaranan atas tanjakan Monteng di kawasan Gunung Guntur yang memiliki kemiringan rata-rata 13% membuat saya mencoba bersepeda menuju Garut via Monteng di perbatasan Kabupaten Bandung dan Garut.

Berangkat dari rumah pukul 9:00 WIB di Buahbatu, perjalanan diarahkan menuju Cicalengka melalui Jalan Raya Timur Cicalengka. Seperti biasa kemacetan mewarnai perjalanan di Jalan Soekarno-Hatta. Sengaja saya melalui jalur lambat yang memang seharusnya dilintasi pesepeda. Selain menjaga ketertiban lalu lintas, saya juga tidak ingin terintimidasi oleh kecepatan tinggi mobil dan kendaraan besar lainnya yang melaju di jalur cepat. Konsekuensi dari pilihan itu memang beberapa kali saya terpaksa menekan tuas rem untuk menghindari sepeda motor yang berjalan lambat.

Kemacetan terasa mengganggu selepas bundaran Cibiru hingga simpang Jatinangor, di sini lalu lintas mobil, sepeda motor dan lainnya berbaur sehingga sangat sulit menjaga kecepatan konstan yang nyaman untuk bersepeda jauh. Jalan yang cukup sepi mulai saya nikmati antara Cicalengka dan Majalaya. Dengan sepeda yang dirakit untuk kegiatan turing, saya bisa mengembangkan kecepatan hingga 25 kilometer per jam. Angin yang berhembus dari depan sejak awal perjalanan tidak begitu mengganggu lagi karena saya bisa memegang stang di bagian bawah untuk mengurangi hambatan angin.

Tiba di Majalaya, waktu menunjukkan pukul 11:45. Terus terang saya masih belum yakin dengan keadaan logistik jalur beberapa kilometer ke depan sehingga saya memutuskan untuk makan siang serta mengisi penuh kedua botol bidon saya di sini.

Tantangan sebenarnya baru dimulai setelah istirahat makan siang tersebut. Jarak yang baru mencapai 50 kilometer membuat saya ragu, apalagi rute yang menanjak menuju Ibun hingga berakhir di PLTP Kamojang mengharuskan saya menanjak setinggi 800 meter. Perbedaan ketinggian kecamatan Majalaya di 700 meter dan Kamojang di 1.500 meter di atas permukaan laut hanya ditempuh dalam jarak kurang dari 10 kilometer.

Beratnya tanjakan, terutama mulai Paseh hingga tanjakan berakhir di Monteng, sebelum pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) Kamojang yang berkisar 12% lebih membuat kelelahan mengalahkan semangat untuk tetap mengayuh pedal. Teringat akan masih jauhnya perjalanan, saya memutuskan untuk menuntun sepeda, setidaknya 3 kilometer per jam kecepatan menuntun masih bisa mencicil jarak yang harus ditempuh.

Tapi jurus menuntun itu pun ternyata sulit dilakukan di Tanjakan Monteng. Di beberapa tempat, kemiringan yang mencapai 30% membuat saya seakan mendorong sepeda ke atas tembok, umumnya tanjakan seberat ini hanya ada di medan offroad. Setidaknya di medan offroad, sepatu sepeda masih bisa mendapatkan traksi. Di jalan aspal dengan sedikit pasir di atasnya, beberapa kali sepatu kembali merosot ke bawah.

Perjuangan ini akhirnya selesai saat saya menjumpai tanda-tanda instalasi PLTP Kamojang. Terlihatnya plang kawasan pembangkit listrik yang berada di kawasan konservasi Gunung Guntur ini seakan lunas membayar kesulitan perjalanan yang ditempuh. Pemandangan ke depan yang menampakkan langit biru menggantikan lerengan gunung seakan mengucapkan selamat atas perjuanganku.

Perjalanan dilanjutkan menuju kota Garut. Rencana menengok sentra kerajinan kulit Sukaregang tidak jadi dilakukan karena masalah waktu. Perjalanan dilanjutkan menuju Nagreg, setidaknya tanjakan ini lebih mudah daripada kembali menanjak lewat Samarang, Garut. Jalur mendatar dan sedikit menurun yang mengantarkan perjalanan hingga tanjakan Nagreg saya gunakan untuk mengumpulkan tenaga.

Badan sudah cukup lelah saat jalan layang Nagreg nampak di depan mata. Jam yang hampir menunjukkan pukul 5 sore membuat saya memaksa untuk mengayuh sepeda menembus tanjakan. Target saya untuk menyelesaikan perjalanan sebelum matahari tenggelam gagal sudah.
Sebuah minimarket di Rancaekek menjadi tempat istirahat terakhir saya di perjalanan ini. Jarak ke kota Bandung yang sekitar 25 kilometer lagi membutuhkan mentalitas bersepeda yang lain dari yang diperlukan di perjalanan sebelumnya. Sudah tidak diperlukan lagi tenaga yang besar untuk menanjak dan posisi bersepeda aerodinamis untuk mengurangi terpaan angin.

Lalu lintas kendaraan bermotor pinggiran kota Bandung dipadukan dengan lelahnya badan ini membuat saya harus bisa menjaga momentum untuk bisa pulang. Sedikit menyisakan jarak dengan kendaraan bermotor di depan harus dilakukan sehingga saya tidak harus mengayuh lagi dari awal saat kendaraan bermotor itu berhenti tiba-tiba. Perjalanan berakhir sekitar jam 8 malam, menempuh jarak 150 kilometer dalam sehari.


(Goestarmono, dimuat di Back2boseh Pikiran Rakyat 23 Agustus 2015)

Monday, June 22, 2015

Quaxing dan Transportasi Berkelanjutan

Tweet awal tagar #quaxing
Apa yang ada di benak masyarakat jika ditanya tentang pusat perbelanjaan? Umumnya terbayang sebuah bangunan besar dengan banyaknya kios atau stand pedagang. Pendukung kegiatan perbelanjaan itu juga diwarnai dengan transportasi yang boleh dibilang kusut. Pusat perbelanjaan umumnya menjadi pusat kemacetan dan solusi yang dibayangkan oleh pengelolanya atau pengelola transportasi adalah meningkatkan jumlah area parkir untuk kendaraan bermotor untuk memfasilitasi pengunjung.

Quaxing dengan Cargobike
Sebuah tren baru di dunia maya hadir dalam bentuk tagar #quaxing dan sempat menjadi trending topic di media sosial Twitter. Tagar ini umumnya diikuti dengan gambar pelaku transportasi berkelanjutan seperti berkendaraan umum, berjalan kaki, atau bersepeda dengan barang belanjaan dalam jumlah yang cukup banyak. Tagar #quaxing ini dikirim dari berbagai belahan dunia, walaupun kebanyakan berasal dari dunia barat.

Ada apa di balik tagar #quaxing? Tagar itu berasal dari nama anggota dewan pemerintah daerah Auckland, Dick Quax. Awal tahun ini Quax terlibat debat dengan Luke Christensen, seorang perencana transportasi dan desain kota, serta seorang pengguna lainnya, Bryce Pearce.
Saat itu Luke memuji tentang penggunaan panel surya di salah satu mal di pinggiran kota Auckland, dan menyarankan untuk menyambungkan transportasi publik sebagai upaya untuk meningkatkan keramahan lingkungan mal tersebut. Dick Quax menyambut cuitan itu dengan mengatakan berbelanja menggunakan kendaraan umum adalah ide yang aneh. Saat itulah Pearce menyambut dengan mengatakan ia biasa berbelanja mingguan dengan menggunakan sepeda. Membaca cuitan Pearce, Quax menyindirnya dengan mengatakan hal itu bisa menjadi kampanye iklan bir.

Dick Quax
Rupanya Dick Quax masih terjebak dengan pola pikir berbelanja hanya bisa dilakukan dengan mobil. Studi yang dilakukan di Eropa membuktikan sebaliknya. Seandainya ada akses untuk transportasi lain, mayoritas konsumen menggunakan transportasi umum untuk berbelanja. Di Bristol, Inggris dan Graz, Austria ternyata pengusaha terlalu menganggap penting konsumen bermobil sehingga menyediakan tempat parkir mobil yang akhirnya lowong, sementara mayoritas konsumen berbelanja dengan kendaraan umum.

Quaxing dengan kereta api (@urbanexploreAKL)
Memang fakta itu terjadi karena di Eropa dan negara maju umumnya transportasi publik dan desain kota memungkinkan warga kota tidak menggunakan atau bahkan tidak memiliki kendaraan bermotor. Ini diungkapkan James Herbeck, blogger Kanada yang menggunakan kendaraan umum saat bepergian di luar Kanada dan tidak memiliki kendaraan bermotor. Memang untuk bepergian ke luar kota di Selandia Baru ia masih mengalami kesulitan hingga akhirnya menyewa mobil, namun menurutnya untuk warga kota, hal itu bukanlah hal yang sulit dilakukan.

Quaxing (twitter.com)
Tak ayal cuitan Dick Quax itu dibalas netizen Auckland hingga akhirnya bulan lalu sebuah akun Non-Motorist, sebuah akun tentang transportasi Auckland membuat cuitan tentang tagar #quaxing. Di cuitan itu akun tersebut membuat definisi tagar #quaxing adalah “berbelanja di dunia barat dengan berjalan kaki, bersepeda, atau berkendaraan umum”.

Siapa sebenarnya Dick Quax? Ia sebenarnya memiliki latar belakang atletis yang kuat. Anggota tim olimpiade Selandia Baru di Olimpiade Montreal tahun 1976 ini pada akhir karirnya memegang rekor Selandia Baru untuk nomor lari 5.000 meter dan marathon serta sempat memegang rekor dunia untuk 5.000 meter. Ia juga lahir di Belanda, negara dengan rasio pemakaian sepeda tertinggi di dunia. Ia bermigrasi ke Selandia Baru tahun 1950-an dan menjadi warga negara Selandia Baru tahun 1969.

Kontroversi memang mempunyai dua sisi. Perisakan terhadap Dick Quax memang kurang baik dari sisi etika, namun tanpa kontroversi itu sedikitnya suara pelaku transportasi berkelanjutan yang tidak banyak diketahui atau bahkan diabaikan oleh perencana kota dan pelaku usaha akhirnya tersuarakan. Tagar dan kata #quaxing dapat menjelaskan suatu kegiatan berbelanja dengan tranportasi berkelanjutan hingga ditemukan satu kata lain yang lebih cocok, atau kata itu hilang karena mayoritas konsumen berbelanja dengan transportasi berkelanjutan.

Tempat parkir di pusat perbelanjaan
Bagaimana dengan di Indonesia? Gambaran pusat perbelanjaan seperti mal, pasar, ruko, dan lain-lain masih bersinonim dengan kemacetan, kesulitan mencari lahan parkir. Apakah kita dapat beralih menggunakan transportasi berkelanjutan seperti berkendaraan umum, bersepeda, atau untuk jarak dekat berjalan kaki, dan membuktikan pada Dick Quax dan orang yang berpandangan sama bahwa kegiatan sehari-hari dapat dilakukan dengan transportasi berkelanjutan?


(Goestarmono)

Tuesday, April 7, 2015

Pengalaman Lain Menyusuri Citarum

Air adalah sumber kehidupan. Tiada kehidupan yang dapat berlangsung tanpa air. Mulai dari kebutuhan dasar seperti makan dan minum hingga kebutuhan modern seperti industri membutuhkan air.

Itu pula yang dipotret pesepeda saat mengikuti sepeda sehat dalam rangka ulang tahun TVRI Jawa Barat tanggal 15 Maret 2015 yang lalu. Acara sepeda sehat tersebut menyusuri Sungai Citarum dengan start di Kepolisian Daerah (Polda) Jawa Barat dan finis di TVRI Jawa Barat.

Perjalanan dimulai dengan jalan aspal dari Polda Jawa Barat hingga Desa Sapan. Pemandangan perumahan padat penduduk seketika berganti menjadi pemandangan lain. Pesawahan dan perumahan dengan gaya pedesaan menjadi gradasi antara pemandangan perumahan kota dan daerah industri dengan pemandangan tepi Sungai Citarum.

Bersepeda di tepi sungai Citarum memang menyajikan pengalaman bersepeda yang lain. Jangan berharap wisata susur sungai Citarum menyediakan fasilitas wisata sungai seperti di luar negeri dengan bangku taman, tempat sampah yang memadai, atau bahkan sekedar jalan yang mulus.
Dengan bersepeda menyusuri sungai Citarum kita dapat melihat kehidupan warga Bandung. Di Desa Sapan dengan air sungai yang relatif belum begitu tercemar, ada pengrajin batu bata yang memanfaatkan endapan sungai. Endapan sedimen dari hulu sungai menjadi berkah bagi sebagian orang di sana.

Semakin dekat dengan Bojong Soang pemandangan mulai berganti dengan banyaknya perumahan menghiasi sisi sungai Citarum. Sampah mengisi sungai Citarum seakan menjadi cermin dari ketidakpedulian warga kota akan sungai yang menjadi sumber kehidupan. Mungkin sampah juga yang menjadi sebab banjir yang selalu menjadi masalah bagi warga Bandung.

Banjir pula yang menyebabkan peserta tidak jadi melalui jalan Manggahang seperti yang direncanakan. Pada saat perjalanan dilakukan, Jalan Manggahang terendam banjir sehingga tidak dapat dilalui. Peserta memutar melalui jalan raya Dayeuhkolot, meninggalkan sejenak Sungai Citarum.

Peserta kembali menyusuri Citarum setelah berbelok di Pusat Penelitian Kertas dan Pulp di Jalan Mohammad Toha. Setelah mencicipi jalan yang rusak di beberapa ratus meter awal, jalan yang dilalui kemudian cukup mulus dengan permukaan beton di Parung Halang. Peserta menikmati pemandangan sungai Citarum dengan cukup mudah hingga mendekati Jalan Ketapang. Jembatan gantung, yang keempat dan terakhir kali dilalui di perjalanan ini menghindarkan peserta dari padatnya pasar Rancamanyar melalui Seketi. Perjalanan susur Citarum berakhir di ujung jalan tersebut dan melalui Jalan Bojong Sayang.

Peserta melanjutkan perjalanan ke TVRI Jawa Barat yang sedang berulang tahun ke 28 dan menyaksikan lomba XC Cross yang juga diikuti oleh tim nasional sepeda gunung.
Tanggal 22 Maret juga diperingati sebagai Hari Air Sedunia dengan tema Air untuk Pembangunan Berkelanjutan. Kegiatan Sepeda Sehat dalam rangka ulang tahun TVRI Jawa Barat memotret Sungai Citarum dengan kondisinya. Apakah sungai Citarum dapat berperan dalam pembangunan berkelanjutan warga Bandung?


(Goestarmono, dimuat di Back2boseh Pikiran Rakyat, 29 Maret 2015)

Friday, February 20, 2015

Galunggung Mountain Bike Adventure 2015

Keindahan alam Jawa Barat memang tak terbantahkan. Budayawan MAW Brower mengatakan, Tuhan menciptakan Bumi Priangan sambil tersenyum.

Keindahan alam itu pula yang dinikmati sekitar 200 peserta Galunggung Mountain Bike Adventure 2015 pada 25 Januari 2015 lalu. Keindahan kaki Gunung Galunggung menjadi latar belakang pemandangan saat kaki peserta memutar pedal sepedanya.

Acara tersebut diselenggarakan Workshop Adventure dan dilepas Wakil Walikota Tasikmalaya yang juga sering bersepeda, Dede Sudrajat. Selepas start, peserta menyusuri jalanan kota Tasikmalaya.

Tak berapa lama, jalanan khas perkotaan yang sarat dengan kendaraan bermotor berganti dengan pemandangan yang lebih menyejukkan. Pemandangan persawahan dan kolam ikan milik masyarakat menggantikan jalanan aspal. Bisa dimengerti bahwa tumpuan ekonomi Kabupaten Tasikmalaya adalah dari sektor pertanian, peternakan, dan perikanan. Peserta dibawa melalui jalan pedesaan di antara persawahan dan kolam ikan. Sekitar 2 kilometer peserta mengikuti jaringan saluran irigasi.

Selepas suasana persawahan dan kolam ikan di Sukaratu, peserta yang berasal dari Tasikmalaya, Bandung, Cilegon, hingga Balikpapan memasuki pemukiman warga di Gunungsari dan melihat kehidupan sehari-hari warga Tasikmalaya. Tempat yang dilewati peserta lainnya adalah salah satu dari 800 pesantren yang ada di Kabupaten yang dikenal sebagai pusat keagamaan di Jawa Barat ini.

Tahun 1982, Gunung Galunggung meletus. Gunung yang menjadi tujuan akhir acara ini memuntahkan material, di antaranya adalah pasir vulkanik. Pasir Galunggung yang baik untuk bahan bangunan dan industri hasil dari letusan gunung tersebut masih ditambang hingga kini.

Salah satu perusahaan penambangan pasir Gunung Galunggung adalah CV Putra Permana yang mengizinkan area penambangannya dilalui peserta Galunggung Mountain Bike Adventure 2015.
Galunggung Mountain Bike Adventure 2015 adalah event cross country murni. Sifat event cross country adalah trek di mana sepeda dapat dikayuh di 100% lintasan dan tanpa turunan yang membahayakan.

Bagaimana dengan sepedanya? Sepeda apa yang cocok digunakan untuk event ini?

Cross country adalah dasar dari bersepeda gunung. Hampir semua sepeda gunung keluaran pabrikan dapat digunakan untuk cross country, kecuali sepeda downhill karena tidak adanya gir ringan untuk melibas tanjakan, atau sepeda dirt jump karena rendahnya sadel. Memang pabrikan mengeluarkan sepeda khusus cross country yang lebih ringan karena kekuatannya tidak didesain untuk trek ekstrem. Namun pada dasarnya, hampir semua sepeda gunung dapat digunakan untuk event  cross country.
Bersepeda cross country memang cara yang ampuh menikmati keindahan alam dan kehidupan di lintasan yang dilalui


(Goestarmono, dimuat di Back2boseh Pikiran Rakyat 8 Februari 2015)