Showing posts with label event. Show all posts
Showing posts with label event. Show all posts

Friday, May 27, 2016

Paris Roubaix “Neraka di Utara”

Sean Kelly, pemenang Paris-Roubaix 1984 (foto: Aaron Cripps)
Buruknya infrastruktur jalan di suatu daerah umumnya menjadi aib bagi warga atau pemerintah daerah tersebut. Tapi bagaimana jika sejarah dan ajang olahraga bisa membalikkan aib tersebut menjadi legenda dalam ajang lomba sepeda. Paris-Roubaix, sebuah lomba yang berlangsung tiap musim semi mendapat julukan “Neraka di Utara”, dan menjadi lomba yang ditunggu penggemar sepeda.

Paris-Roubaix kembali diadakan tanggal 10 April ini. 120 tahun yang lalu, Theodore Vienne dan Maurice Perez, pengusaha tekstil dari Roubaix, sekarang pinggir kota Lille, Perancis ingin mempromosikan Velodrome yang mereka bangun serta mempromosikan Roubaix sebagai tujuan wisata dan membangkitkan ekonomi kota. Kedua orang ini menghubungi Paul Rousseau, direktur koran Le Velo, yang juga menyelenggarakan lomba Bordeaux-Paris yang terkenal saat itu.

Salah satu sektor jalan berbatu di Paris-Roubaix (foto: Road Cycling UK)
Sebenarnya balapan ini hampir tidak terlaksana seandainya Vienne dan Perez gagal memberi akomodasi yang baik untuk Victor Breyer. Breyer, yang diutus Rousseau untuk mensurvei lintasan lomba sebenarnya sudah memutuskan untuk membatalkan lomba ini karena beratnya medan lomba. Ia tiba di Roubaix dalam keadaan lelah yang teramat sangat dengan badan yang dikotori lumpur. Jamuan dari tuan rumah di Roubaix lah yang membuatnya berubah pikiran. Walaupun saat ini rute Paris-Roubaix dikenal dengan kondisi lintasannya yang buruk, sebenarnya pada tahun-tahun awal lomba hal itu dinilai wajar. Kondisi permukaan jalan berbatu (cobblestone) memang menjadi permukaan jalan terbaik yang digunakan di seluruh dunia, bahkan untuk jalan utama di negara maju sekalipun.

John Degenkolb, juara Paris-Roubaix 2015 (foto: Roberto Bettini)
Julukan “Neraka di Utara” mulai disematkan kepada Paris-Roubaix setelah Perang Dunia I. Tahun 1919, selepas Perang Dunia I, panitia ingin menghidupkan kembali Paris-Roubaix. Dengan kondisi telekomunikasi yang hancur, panitia dari Paris bahkan tidak tahu jika kota Roubaix masih ada atau hancur total akibat perang. Tim survei yang diberangkatkan untuk merintis lomba menemukan kondisi jalur lomba hancur akibat perang. Pohon yang terbakar, bau bangkai ternak yang membusuk, serta lubang bekas pengeboman dan mortir menjadi pemandangan yang semakin mewarnai perjalanan mereka semakin mendekati Roubaix. Walau begitu, lomba di tahun 1919 ini tetap dilaksanakan dengan keadaan lintasan pasca perang yang sangat buruk.

Tabrakan di Paris-Roubaix 2014 (foto: Road Cycling UK)
Setelah Perang Dunia II, teknologi pembuatan jalan semakin baik dan aspal mulus mulai menggantikan jalan berbatu. Walau begitu, Paris Roubaix tetap mempertahankan ciri khasnya melalui jalanan berbatu hingga di tahun 1960-an pemerintah daerah yang dilalui Paris-Roubaix mulai mengaspal rute lomba. Albert Bouvet, ketua panitia lomba saat itu tidak menyukainya. Baginya lomba yang berlangsung di aspal mulus berlangsung monoton dengan hasil yang ditentukan oleh sprint massal. Di sisi lain, pemerintah daerah yang dilalui merasa malu karena lomba ini seakan memamerkan buruknya infrastruktur jalan. 

John Degenkolb, juara Paris-Roubaix 2015 dengan piala batu jalanan (foto: Cycling Weekly)
Bouvet akhirnya mendirikan Les Amis de Paris-Roubaix (teman Paris-Roubaix) yang bertujuan mencari dan merawat jalanan berbatu yang tersisa. Memang jalan berbatulah yang membuat Paris-Roubaix mendapat tempat khusus di hati penggemar balap sepeda. Tugas Teman Paris-Roubaix pun bertambah karena banyak penggemar lomba ini yang mencongkel batuan jalan (sette) untuk dijadikan cendera mata.

Buruknya lintasan lomba pun membuat sepeda yang digunakan di lomba ini menarik untuk diamati. Hanya di lomba inilah, pembalap sepeda jalan raya menggunakan sepeda yang dirancang untuk kenyamanan dan peredaman guncangan. Salah satu dari komponen yang dibuat khusus untuk Paris-Roubaix yang terkenal adalah penggunaan suspensi depan Rockshox oleh Greg Lemond tahun 1991. Bianchi dan Clark-Kent mengeluarkan sepeda bersuspensi ganda di tahun 1994. Kegagalan sepeda suspensi ganda di lomba tahun 1994 ini mengakhiri penggunaan suspensi aktif di Paris-Roubaix dan lomba balap sepeda profesional. Tahun 2005, pabrikan sepeda Trek membuat purwarupa sepeda dengan suspensi belakang yang digunakan oleh Viatcheslov Ekimov. Saat ini sepeda yang digunakan di lomba ini dengan suspensi aktif adalah Pinarello Dogma KS-8 yang digunakan tim Sky. Umumnya pabrikan sepeda menggunakan suspensi pasif berupa material serat karbon yang didesain fleksibel.

Di antara kemudahan dan kemajuan infrastruktur jalan, Paris-Roubaix mendapat tempat di kalangan penggemar sepeda. Sebagai lomba yang monumental, ia juga menjadi pengingat bahwa Perancis Utara sempat hancur akibat perang. Selain itu, ia juga menjadi saksi bisu bagaimana jalanan di masa abad 19 dibuat.


(Goestarmono)

Friday, May 20, 2016

Strade Bianche

Saat ini belahan bumi utara memasuki musim semi. Musim yang berganti berarti dimulainya musim lomba balap sepeda jalan raya setelah sebelumnya para pebalap banyak yang beralih ke lomba Cyclocross. Di musim yang mulai menghangat ini musim lomba balap sepeda jalan raya 2016 dimulai dengan rangkaian lomba Spring Classic dengan Strade Bianche sebagai pembuka pada tanggal 5 Maret ini.

Tidak banyak event balap sepeda yang menjadi terkenal dan jadwal yang dikejar pebalap papan atas. Kebanyakan balapan tersebut adalah balapan dengan sejarah penyelenggaraan dengan penyelenggaraan di atas 40 tahun, tidak demikian halnya dengan Strade Bianche. Event dengan nama lengkap Strade Bianche Eroica Pro baru memulai penyelenggaraan pertamanya tahun 2007. Apa menariknya lomba yang diselenggarakan di provinsi Siena, Italia ini hingga dalam waktu singkat berhasil meraih predikat 1.HC, satu tingkat di bawah World Tour yang merupakan puncak dari seri lomba dunia?

Lomba Strade Bianche (foto oleh Tim De Waele)
Ada beberapa kunci dari sukses Strade Bianche. Salah satu kunci sukses itu adalah rute yang dilalui. Balapan ini tidak hanya melulu menggunakan jalan aspal yang mulus sebagai jalur perlombaan. Nama Strade Bianche yang berarti jalan putih mengacu pada beberapa bagian jalan berkerikil putih khas daerah Tuscany dengan total panjang 52 kilometer dari 176 kilometer total panjang lomba.

Strade Bianche dimulai dan berakhir di kota Siena, sebuah kota yang mendapat predikat Unesco World Heritage Site. Keunikan lomba ini adalah lokasi finish di Piazza del Campo, tempat diselenggarakannya balap kuda tanpa pelana, Palio di Siena yang termasyhur. Sebelum mencapai garis finish, penonton lomba diberi tontonan aksi para pebalap menanjak di jalan sempit dengan kemiringan hingga 16 persen.


Rute yang indah dan unik ini mulai digunakan sejak 1997 sebagai lomba rekreasi Granfondo. Tahhun 2007, RCS Sport, penyelenggara Giro d’Italia sebagai panitia lomba mulai menyelenggarakan balap sepeda profesional dengan nama Monte Paschi Eroica, dari nama bank Monte Paschi de Siena yang menjadi sponsor lomba.

Lomba perdana yang diselenggarakan bulan Oktober ini dipindahkan ke bulan Maret pada edisi berikutnya sehingga menjadi event pembuka musim lomba. Jadwal baru ini lebih awal dari lomba klasik lainnya, Milan-San Remo yang diselenggarakan akhir Maret. Penjadwalan ini menjadi kunci kedua yang menyebabkan para pembalap papan atas dunia menunggu untuk berpartisipasi di lomba ini.

Dalam waktu singkat, tidak sampai satu dekade, lomba ini berhasil meraih predikat 1.HC, predikat yang sangat sulit diraih bahkan oleh lomba yang telah berjalan puluhan tahun. Daftar pemenang Strade Bianchi yang masih pendek pun didominasi oleh pebalap papan atas dunia. Fabian Cancellara yang tahun ini memperkuat tim Trek-Segafredo adalah satu-satunya pebalap yang pernah memenangi lomba ini lebih dari sekali. Nama lain yang menghiasi daftar yang pendek itu adalah juara dunia jalan raya 2014 Michal Kwiatkowski dari Polandia yang memenangi lomba ini di tahun 2014 serta juara Cyclocross 2014 Zdenek Stybar (Republik Cek) yang memenangi Strade Bianche tahun lalu.

Kunci terakhir dari kesuksesan Strade Bianche adalah kepercayaan diri penyelenggaranya. Sejarah lomba yang belum panjang dan kemiripan dengan lomba lain yang terkenal biasanya membuat panitia mengasosiasikannya dengan lomba lain yang lebih terkenal. Melakukan promosi Strade Bianche sebagai Paris Roubaix-nya Italia misalnya, menunjukkan lomba klasik baru ini inferior terhadap lomba yang diasosiasikan. Dengan tidak membandingkannya dengan lomba lain menunjukkan Strade Bianche bisa bersaing atau bahkan mengalahkan popularitas lomba lain yang lebih mapan.


(Goestarmono)

Friday, September 18, 2015

Touring Cepat Gaya Josh Ibbett

Berbeda dengan lomba sepeda yang lain, Transcontinental Bike Race mengharuskan peserta untuk membalap tanpa dukungan dari pihak luar sama sekali. Semua perlengkapan yang digunakan harus dibawa peserta atau dibeli di sepanjang perjalanan. Aturan lomba seperti ini membuat pesepeda lain dapat meniru peralatan yang digunakan peserta untuk kegiatan bersepedanya.

Tahun ini juara bertahan dua kali Kristof Allegeart tidak turut serta, runner up tahun lalu Josh Ibbett, yang juga brand manager Hunt Wheels menjuarai event balapan melintasi benua Eropa. Ia menempuh jarak 4.239 kilometer dalam 9 hari 23 jam dan 54 menit.

Dalam menempuh jarak lomba tersebut, Josh membawa perlengkapannya sendiri tanpa mobil pendukung. Bagaimana Josh melakukan perjalanan yang cukup panjang itu secara mandiri namun tetap mempertahankan kecepatan yang cukup tinggi? Bagaimana Josh membangun sepedanya secara efisien setelah tahun lalu ia mempelajari beberapa hal yang bisa diperbaikinya hingga memenangi lomba ini?

Sepeda yang digunakan Josh dibangun dari rangka sepeda Mason Definition keluaran Mason Cycle. Mason Cycle memang baru berumur setahun, setelah sebelumnya Dominique Mason bekerja sebagai brand manager pabrikan sepeda lain. Terbuat dari Aluminum dan garpu serat karbon, rangka sepeda ini hanya bisa menggunakan rem cakram. Tahun lalu Josh menggunakan rem kaliper namun cuaca buruk membuat Josh sering mengganti kampas rem, serta kabel yang macet membuat tangannya lelah. Penggunaan rem cakram juga membuat ia dapat menggunakan ban tubeless Schwalbe One berukuran 28 milimeter. Ban tubeless berukuran relatif besar diperlukan mengingat Josh harus melintasi jalan berkerikil di Strada dell’Assietta serta jalan yang masih buruk di Albania dan Bulgaria.

Kelelahan juga membuat Josh memilih menggunakan transmisi elektronik Shimano Ultegra Di2. Tahun lalu ia menggunakan transmisi mekanik, namun putusnya kabel shifter membuatnya tidak dapat memindahkan rasio giginya dari Albania hingga Turki. Rasio gigi yang digunakan adalah gir 52/36 dan cassette 12-25, yang cukup berat bagi pesepeda umum, namun diperlukan agar kecepatan Josh tidak turun drastis saat menjumpai tanjakan.

Komponen lain yang digunakan adalah komponen orisinil sepeda Mason yang terbuat dari Aluminum, kecuali seatpost yang terbuat dari serat karbon. Josh memilih menggunakan Aluminum, karena jalan yang dilalui tidak semuanya baik, serta kelelahan dalam melintasi benua Eropa membuatnya banyak menjatuhkan sepeda ke lantai yang akan menyebabkan gesekan dan mengurangi kekuatan komponen serat karbon. Penggunaan serat karbon pada seatpost mengurangi getaran jalan lebih baik.

Saat berlomba dalam jarak ribuan kilometer, kenyamanan adalah prioritas utama. Josh membangun sepedanya dengan memasang sadel dan stang khusus time trial untuk mendapatkan posisi bersepeda time trial. Walaupun ada beberapa tanjakan yang berat, termasuk Gunung Ventoux, mayoritas perjalanan menembus benua Eropa adalah melintasi jalanan datar dan sering melawan arah angin.
Kebutuhan daya listrik untuk penggunaan alat navigasi dan lampu untuk perjalanan malam juga harus diatur dengan baik. Jika tahun lalu ia menggunakan hub dinamo, tahun ini menggunakan hub biasa. Gawai yang paling menyedot listrik adalah peralatan navigasi GPS, tahun ini ia menggunakan alat navigasi yang menggunakan baterai AA. Untuk perjalanan malam ia menggunakan lampu Exposure Toro, digunakan dalam daya paling rendah membuatnya bisa bertahan 9 malam. Pengisian ulang daya listrik dilakukan saat Josh beristirahat makan dan tidur, memanfaatkan pasokan listrik di cafe yang ia datangi.

Josh tidak membawa banyak peralatan akomodasi. Bagaimanapun Transcontinental adalah sebuah balapan, sehingga ia hanya membawa sikat dan pasta gigi dalam perjalanan ini. Ia hanya membawa sleeping bag untuk tidur, dengan anggapan jika ia berusaha cukup keras dan cukup lelah, maka ia tidak akan menemui kesulitan untuk tidur di manapun.

Untuk peralatan perbaikan sepeda ia membawa peralatan standar seperti mini pump, multi tool, dan penambal ban, termasuk juga charger untuk gawai dan transmisi elektronik.

Semua peralatan itu ia bawa dalam tas rangka sepeda. Badan Josh yang tinggi membuatnya dapat menggunakan tas rangka berukuran besar di rangka sepedanya. Besarnya tas keluaran Miss Grape dari Italia ini membuat semua bawaannya bisa masuk ke dalam tas rangka ini.

Pengaturan seperti yang dilakukan Josh Ibbett dalam mengikuti Transcontinental Bike Race ini mungkin cocok sebagai alternatif kegiatan turing sepeda. Dengan sepeda yang lebih ringan dan lebih nyaman, setidaknya bisa menyingkat perjalanan turing sepeda atau memperjauh penjelajahan bersepeda.

(Goestarmono)

Friday, September 11, 2015

Transcontinental Bike Race

Apa jadinya jika kegiatan turing sepeda disandingkan dengan kegiatan kompetisi? Boleh disebut event tersebut menjadi kompetisi balap sepeda ultra marathon.

Tahapan yang membagi balap sepeda jenis Tour membuat para pembalap bisa beristirahat bersama-sama setelah lomba selesai di masing-masing harinya. Dalam lomba ultra marathon perhitungan waktu tidak berhenti sejak lomba dimulai hingga peserta mencapai garis finish. Balap ultra marathon pun tidak menutup jalan sehingga lebih mirip dengan keadaan yang dihadapi pesepeda sehari-hari.

Salah satu event ultra marathon yang terkenal adalah RAAM (Race across America), yang telah berlangsung melintasi benua Amerika sejak tahun 1982. Namun esensi bersepeda mandiri agak berkurang karena peserta RAAM diharuskan menggunakan mobil pendukung (support car) yang mengikuti mereka untuk menyediakan fasilitas logistik dan akomodasi pesepeda.

Semangat petualangan yang kurang terakomodasi itulah yang membuat Mike Hall menyelenggarakan balapan menyeberangi benuanya sendiri. Setelah ia memecahkan rekor keliling dunia dalam waktu 91 hari di tahun 2012, ia menyelenggarakan Transcontinental Bike Race, balap sepeda melintasi benua Eropa di tahun berikutnya. Untuk tahun 2015, Transcontinental Bike Race terselenggara untuk ketiga kalinya.

Berbeda dengan RAAM, Transcontinental Bike Race tidak mempunyai rute baku, hanya ada check point yang harus dilewati peserta. Untuk tahun 2015, setelah start yang dilakukan di Muur van Geraardbergen, Belgia tanggal 24 Juli, peserta diberi waktu 15 hari untuk melewati Gunung Ventoux (Perancis), Strada dell’Assietta (perbatasan Italia-Perancis), Vukovar (Kroasia), dan Gunung Lovcen (Montenegro) sebelum finish di Bosphorus, Turki.

Perbedaan lain dari RAAM adalah tidak diperbolehkannya penggunaan mobil pendukung, seluruh peserta hanya boleh menggunakan apa yang dibawa dan yang bisa dibeli di perjalanan. Mike Hall menginginkan Transcontinental Bike Race dimenangkan oleh peserta yang siap bertualang, dengan perjalanan yang bisa dilakukan oleh pesepeda pada umumnya. Event ini juga jadi ujian ketahanan peralatan sepeda selain atletnya.

Atas dasar itu Mike Hall menempatkan checkpoint di Strada dell’Assietta yang mengharuskan pembalap melalui jalan berkerikil sepanjang 40 kilometer. Ia juga mengalihkan pembalap dari jalur pantai Kroasia menuju jalanan terpencil di Balkan dengan menempatkan checkpoint 3 di Vukovar, Kroasia. Mike Hall tidak membatasi jenis sepeda yang digunakan, namun pemilihan checkpoint yang ia buat akhirnya mempengaruhi sepeda yang digunakan peserta. Sepeda ultra ringan yang biasa digunakan pembalap jenis tour ditinggalkan peserta untuk sepeda yang lebih kuat dan bisa membawa barang bawaan.

Untuk tahun ini, juara bertahan dua kali Kristof Allegeart tidak turut serta. Kemenangan diraih runner up tahun lalu Josh Ibbett dengan menempuh jarak 4.239 kilometer dalam 9 hari 23 jam dan 54 menit. Kompetisi yang didominasi oleh Kristof ini membuat Mike Hall berencana membuat pelatihan turing, terutama dari aspek keteraturan dan efisiensi waktu bagi calon peserta Transcontinental selanjutnya. Keteraturan dan efisiensi waktu memang dianggap menjadi kunci kemenangan Kristof Allegeart dalam memenangi Transcontinental Bike Race.


(Goestarmono)

Tuesday, April 7, 2015

Pengalaman Lain Menyusuri Citarum

Air adalah sumber kehidupan. Tiada kehidupan yang dapat berlangsung tanpa air. Mulai dari kebutuhan dasar seperti makan dan minum hingga kebutuhan modern seperti industri membutuhkan air.

Itu pula yang dipotret pesepeda saat mengikuti sepeda sehat dalam rangka ulang tahun TVRI Jawa Barat tanggal 15 Maret 2015 yang lalu. Acara sepeda sehat tersebut menyusuri Sungai Citarum dengan start di Kepolisian Daerah (Polda) Jawa Barat dan finis di TVRI Jawa Barat.

Perjalanan dimulai dengan jalan aspal dari Polda Jawa Barat hingga Desa Sapan. Pemandangan perumahan padat penduduk seketika berganti menjadi pemandangan lain. Pesawahan dan perumahan dengan gaya pedesaan menjadi gradasi antara pemandangan perumahan kota dan daerah industri dengan pemandangan tepi Sungai Citarum.

Bersepeda di tepi sungai Citarum memang menyajikan pengalaman bersepeda yang lain. Jangan berharap wisata susur sungai Citarum menyediakan fasilitas wisata sungai seperti di luar negeri dengan bangku taman, tempat sampah yang memadai, atau bahkan sekedar jalan yang mulus.
Dengan bersepeda menyusuri sungai Citarum kita dapat melihat kehidupan warga Bandung. Di Desa Sapan dengan air sungai yang relatif belum begitu tercemar, ada pengrajin batu bata yang memanfaatkan endapan sungai. Endapan sedimen dari hulu sungai menjadi berkah bagi sebagian orang di sana.

Semakin dekat dengan Bojong Soang pemandangan mulai berganti dengan banyaknya perumahan menghiasi sisi sungai Citarum. Sampah mengisi sungai Citarum seakan menjadi cermin dari ketidakpedulian warga kota akan sungai yang menjadi sumber kehidupan. Mungkin sampah juga yang menjadi sebab banjir yang selalu menjadi masalah bagi warga Bandung.

Banjir pula yang menyebabkan peserta tidak jadi melalui jalan Manggahang seperti yang direncanakan. Pada saat perjalanan dilakukan, Jalan Manggahang terendam banjir sehingga tidak dapat dilalui. Peserta memutar melalui jalan raya Dayeuhkolot, meninggalkan sejenak Sungai Citarum.

Peserta kembali menyusuri Citarum setelah berbelok di Pusat Penelitian Kertas dan Pulp di Jalan Mohammad Toha. Setelah mencicipi jalan yang rusak di beberapa ratus meter awal, jalan yang dilalui kemudian cukup mulus dengan permukaan beton di Parung Halang. Peserta menikmati pemandangan sungai Citarum dengan cukup mudah hingga mendekati Jalan Ketapang. Jembatan gantung, yang keempat dan terakhir kali dilalui di perjalanan ini menghindarkan peserta dari padatnya pasar Rancamanyar melalui Seketi. Perjalanan susur Citarum berakhir di ujung jalan tersebut dan melalui Jalan Bojong Sayang.

Peserta melanjutkan perjalanan ke TVRI Jawa Barat yang sedang berulang tahun ke 28 dan menyaksikan lomba XC Cross yang juga diikuti oleh tim nasional sepeda gunung.
Tanggal 22 Maret juga diperingati sebagai Hari Air Sedunia dengan tema Air untuk Pembangunan Berkelanjutan. Kegiatan Sepeda Sehat dalam rangka ulang tahun TVRI Jawa Barat memotret Sungai Citarum dengan kondisinya. Apakah sungai Citarum dapat berperan dalam pembangunan berkelanjutan warga Bandung?


(Goestarmono, dimuat di Back2boseh Pikiran Rakyat, 29 Maret 2015)

Friday, February 20, 2015

Galunggung Mountain Bike Adventure 2015

Keindahan alam Jawa Barat memang tak terbantahkan. Budayawan MAW Brower mengatakan, Tuhan menciptakan Bumi Priangan sambil tersenyum.

Keindahan alam itu pula yang dinikmati sekitar 200 peserta Galunggung Mountain Bike Adventure 2015 pada 25 Januari 2015 lalu. Keindahan kaki Gunung Galunggung menjadi latar belakang pemandangan saat kaki peserta memutar pedal sepedanya.

Acara tersebut diselenggarakan Workshop Adventure dan dilepas Wakil Walikota Tasikmalaya yang juga sering bersepeda, Dede Sudrajat. Selepas start, peserta menyusuri jalanan kota Tasikmalaya.

Tak berapa lama, jalanan khas perkotaan yang sarat dengan kendaraan bermotor berganti dengan pemandangan yang lebih menyejukkan. Pemandangan persawahan dan kolam ikan milik masyarakat menggantikan jalanan aspal. Bisa dimengerti bahwa tumpuan ekonomi Kabupaten Tasikmalaya adalah dari sektor pertanian, peternakan, dan perikanan. Peserta dibawa melalui jalan pedesaan di antara persawahan dan kolam ikan. Sekitar 2 kilometer peserta mengikuti jaringan saluran irigasi.

Selepas suasana persawahan dan kolam ikan di Sukaratu, peserta yang berasal dari Tasikmalaya, Bandung, Cilegon, hingga Balikpapan memasuki pemukiman warga di Gunungsari dan melihat kehidupan sehari-hari warga Tasikmalaya. Tempat yang dilewati peserta lainnya adalah salah satu dari 800 pesantren yang ada di Kabupaten yang dikenal sebagai pusat keagamaan di Jawa Barat ini.

Tahun 1982, Gunung Galunggung meletus. Gunung yang menjadi tujuan akhir acara ini memuntahkan material, di antaranya adalah pasir vulkanik. Pasir Galunggung yang baik untuk bahan bangunan dan industri hasil dari letusan gunung tersebut masih ditambang hingga kini.

Salah satu perusahaan penambangan pasir Gunung Galunggung adalah CV Putra Permana yang mengizinkan area penambangannya dilalui peserta Galunggung Mountain Bike Adventure 2015.
Galunggung Mountain Bike Adventure 2015 adalah event cross country murni. Sifat event cross country adalah trek di mana sepeda dapat dikayuh di 100% lintasan dan tanpa turunan yang membahayakan.

Bagaimana dengan sepedanya? Sepeda apa yang cocok digunakan untuk event ini?

Cross country adalah dasar dari bersepeda gunung. Hampir semua sepeda gunung keluaran pabrikan dapat digunakan untuk cross country, kecuali sepeda downhill karena tidak adanya gir ringan untuk melibas tanjakan, atau sepeda dirt jump karena rendahnya sadel. Memang pabrikan mengeluarkan sepeda khusus cross country yang lebih ringan karena kekuatannya tidak didesain untuk trek ekstrem. Namun pada dasarnya, hampir semua sepeda gunung dapat digunakan untuk event  cross country.
Bersepeda cross country memang cara yang ampuh menikmati keindahan alam dan kehidupan di lintasan yang dilalui


(Goestarmono, dimuat di Back2boseh Pikiran Rakyat 8 Februari 2015)

Friday, December 26, 2014

Coastal Crew dan Menjadi Diri Sendiri

Coasteal Crew di APDHC 2014
Ajang lomba balap downhill yang diselenggarakan secara internasional telah diselenggarakan di Bukit Tengah, Klungkung, Bali tanggal 9 November lalu. Pada ajang ini, beberapa atlet profesional dari seluruh dunia sudah rutin hadir. Para pembalap downhill yang mewakili berbagai pabrikan sepeda terkemuka dunia menunjukkan kemampuan mereka bersama pembalap dari Indonesia.

Untuk tahun ini ada yang berbeda. Salah satu pabrikan membawa freerider mereka. Dylan Dunkerton, Curtis Robinson, dan Kyle Norbraten, pesepeda gunung dari Sunshine Coast, British Columbia. Mereka adalah Coastal Crew.

Curtis Robinson
Pertemanan mereka bermula dari masa sekolah. Dylan dan Curtis bersekolah di sekolah yang sama. Sementara itu, Kyle Norbraten menjadi teman mereka setelah pindah ke Sunshine Coast tahun 2007 untuk mengembangkan kegiatan bersepeda di Capilano University.

Mereka suka bersepeda gunung, dan melakukannya di tempat kelahiran genre freeride membuat kemampuan mereka terasah. Hal itu membuat Andrew Shandro, mengajak mereka untuk memulai Summer Gravity Camp 14 tahun yang lalu. Di camp ini mereka melatih peserta untuk bersepeda gunung dengan benar dan meningkatkan kemampuan mereka sehingga bisa menikmati kegiatan bersepeda gunung. Tak terhitung banyaknya peserta dari seluruh penjuru dunia yang pernah mengikuti camp ini.

Dylan Dunkerton
Pelajaran fotografi yang mereka pelajari di sekolah menjadi langkah berikutnya. Teknik fotografi itu mereka adopsi untuk mendokumentasikan kegiatan mereka bersepeda gunung di pegunungan sekitar Sunshine Coast, British Columbia dalam bentuk video. Satu hal berlanjut ke hal lain. Mereka bertemu dengan Bjorn Enga, pendiri Radical Film. Tahun 2007 Bjorn membuka studio di Sunshine Coast.
Dylan, Curtis, dan Kyle terlibat dalam pembuatan video Kranked 7 tahun tersebut. Di seri berikutnya, Kranked 8 yang dirilis tahun 2009, mereka ikut serta bersepeda di dalam video tersebut. Saat itulah Bjorn memberi mereka nama Coastal Crew, pesepeda dari Sunshine Coast. Setelah mereka membantu Bjorn, tahun 2011 mereka merilis video mereka sendiri “From the Inside Out”dilanjutkan dengan “Arrival”tahun 2013.

Kyle Norbraten
Besarnya komunitas sepeda gunung di British Columbia membuat destinasi utama sepeda gunung seperti Whistler Blackcomb menjadi terlalu penuh untuk dinikmati. Salah satu yang merasa seperti itu adalah Darren Hemstreet. Suatu hari, Darren beserta keluarganya pergi ke Whistler Blackcomb untuk bersepeda gunung. Panjangnya antrian di setiap lift pengangkut sepeda membuatnya menghabiskan waktu untuk mengantre, dan bukan bersepeda. Bersamaan dengan itu pula ia berpikir tentang banyaknya uang yang didapat dari resort tersebut, dan berpikir mengapa ia tidak membuatnya di dekat rumahnya di Sunshine Coast.

Coastal Crew, Darren Hemstreet, dan crew Coast Gravity Park lainnya
Darren adalah kontraktor dan operator alat berat dari Sunshine Coast. Perjalanan sekitar 150 kilometer ke Whistler itu membuatnya mengajak Coastal Crew membangun sebuah bike park di Sechelt, Sunshine Coast. Setelah satu setengah tahun mereka bekerja menggali, membangun lintasan dan rintangan, akhirnya bike park tersebut, Coast Gravity Park resmi dibuka September 2013. Saat ini Coast Gravity Park memiliki 12 lintasan berbeda yang mengakomodir pesepeda gunung dengan berbagai tingkatan keahlian dari lintasan yang lebar dan mulus hingga lintasan untuk pesepeda profesional dengan berm, gap, dan jump raksasa.

Curtis Robinson
Dari berbagai hal yang Coastal Crew lakukan, mereka berhasil mendapatkan sponsor dan mendapat penghasilan yang bisa menyokong kehidupan mereka. Menurut Dylan, selain kecepatan, kesulitan trik yang dilakukan, tingginya lompatan atau drop, sponsor juga membutuhkan orang yang dapat diasosiasikan seperti pesepeda gunung pada umumnya. Orang-orang yang selalu menikmati bersepeda gunung dan mau membantu orang lain untuk menikmati bersepeda gunung pula.

(Goestarmono, dimuat di Back2boseh Pikiran Rakyat 7 Desember 2014)

Friday, September 19, 2014

Ranca Upas, Destinasi Alternatif Bersepeda

Ranca Upas, sebuah destinasi alternatif bersepeda di Bandung
Umumnya pesepeda kota Bandung lebih mengakrabi destinasi bersepeda di sebelah utara kota Bandung. Memang, jalur tanjakan dan suasana pedesaan berjarak lebih dekat ke arah utara kota daripada arah mata angin lainnya. Namun apakah sisi lain penyokong kota Bandung tidak layak jadi pilihan?

Bandung terletak di persilangan dengan jalan nasional menuju ibukota kabupaten dan propinsi lain di tiga arah, utara, barat, dan timur. Arah selatan kota Bandung mengarah ke ibukota Kabupaten Bandung, Soreang, dan berlanjut ke Ciwidey hingga pantai selatan Jawa Barat. Di Ciwidey terdapat satu destinasi yang layak dipertimbangkan, Ranca Upas, tepatnya bumi perkemahan Kampung Cai, Ranca Upas.

Kegiatan Bikecamping dapat dilakukan di Ranca Upas
Berada di kaki Gunung Patuha, bumi perkemahan yang dikelola PT. Perhutani ini berlokasi kurang lebih 45 kilometer dari kota Bandung. Menikmati fasilitas di Bumi Perkemahan Kampung Cai ini dapat dilakukan dengan biaya terjangkau, sementara fasilitas yang dapat disewa dengan biaya tambahan juga cukup lengkap, seperti tenda, sleeping bag, hingga kayu bakar.

Apa yang ditawarkan Ranca Upas untuk pengalaman bersepeda? Sesuai tempatnya, tentu tempat ini ideal untuk bike camping. Dengan jarak menengah dari kota Bandung, mencapai lokasi Ranca Upas tidak terlalu berat sehingga cocok untuk pesepeda pemula, namun juga tidak terlalu ringan untuk pesepeda yang sudah mahir karena masih menyajikan tanjakan hingga ketinggian 1.700 meter di atas permukaan laut. Kampung Cai Ranca Upas dapat dicapai dalam waktu kurang lebih setengah hari bersepeda.

Ketemu Youk Tanzil dari Ring of Fire di Ranca Upas
Pesepeda dapat kembali ke kota Bandung setelah bermalam dalam tenda yang dibawa dalam pannier, atau disewa dari pengelola. Sebagai bukti cocoknya tempat ini untuk bike camping, komunitas pengendara sepeda Federal merencanakan Jambore Nasional ke dua-nya di tempat ini. Suhu yang bisa mencapai 10⁰ Celcius menjadi tantangan sendiri bagi fisik dan peralatan bike camper.

Bagaimana dengan disiplin bersepeda lain? Pesepeda gunung dapat menikmati lintasan yang berada dalam hutan binaan PT. Perhutani. Sayangnya saat ini belum ada lintasan sepeda gunung permanen di Ranca Upas. Pesepeda yang ingin bersepeda gunung harus menjelajah sendiri di antara bersilangnya jalan setapak di hutan tersebut. Lintasan dengan memanfaatkan jaringan jalan setapak tersebut juga digunakan untuk acara lomba MTB-XC di acara ulang tahun dan peluncuran logo sebuah perusahaan outdoor tanggal 17 Agustus 2014 kemarin.

Federalist Bandung Indonesia (FBI) di Ranca Upas
Alternatif lainnya adalah meluaskan penjelajahan hingga ke perkebunan teh Walini. Untuk menjelajah hingga perkebunan teh Walini dapat dilakukan dengan bersepeda sekitar 20 kilometer hingga kembali lagi ke Ranca Upas, bersepeda di kebun teh, dengan fitur batuan beku dan lintasan kerikil kasar menyajikan tantangan tersendiri.

Bagaimana dengan sepeda jalan raya? Area Kampung Cai, Ranca Upas memang miskin jalan mulus dan tidak seberapa luas. Namun penggemar sepeda jalan raya dapat bersepeda menuju pantai selatan Jawa Barat. Kemacetan yang terjadi hampir setiap waktu antara Bandung dan Soreang, serta kemacetan pada hari libur hingga Kawah Putih menjadikan Ranca Upas sebagai titik awal yang cocok untuk bersepeda menuju pantai selatan melalui Rancabali, Situ Patengan, Naringgul, dan mencapai pantai selatan di Cidaun, Kabupaten Cianjur.

Kemacetan yang hampir selalu terjadi memang membuat keengganan pesepeda untuk menjelajah Ranca Upas dan sekitarnya. Namun perjuangan memang menyuguhkan kenikmatan tersendiri, bagi pesepeda yang mencapai daerah tersebut akan diganjar oleh bersihnya udara dan suasana yang sepi.

(Goestarmono, dimuat di Back2boseh Pikiran Rakyat 24 Agustus 2014)

Monday, July 14, 2014

Race Across America 2015

Pippa Middleton dalam RAAM (foto: Axelle/Bauer-Griffin/GC Images)


Pippa Middleton saat memulai lomba RAAM (foto: World Entertainment News Network)
Banyak pesepeda yang menempuh jarak jauh hingga ratusan bahkan ribuan kilometer. Namun bagaimana jika melakukan balapan berjarak ribuan kilometer? Dan ini bukan balapan yang terbagi atas etape seperti Tour de France, Tour de Langkawi, Tour de Singkarak, atau balapan lain yang masuk dalam kalender UCI.

Race Across America atau disingkat RAAM adalah balapan yang berlangsung dari pantai barat dan finish di pantai timur Amerika Serikat. Berbeda dengan balapan yang masuk dalam kalender UCI, RAAM dianalogikan sebagai balap ultra marathon bersepeda. Ini karena peserta tidak dibatasi oleh pembagian waktu dan jarak dalam etape. Selain beratnya lomba akibat jarak dan sifat lomba yang nonstop, tidak adanya penutupan jalur seperti lomba balap sepeda biasa juga membuat peserta harus lebih waspada terhadap lalu lintas di jalur yang dilalui.

Juara kategori perorangan Christoph Strasser saat melintas garis finish (foto: RAAM)
Saat bendera start dikibarkan, waktu terus berjalan hingga peserta mencapai finish. Manajemen waktu istirahat, makan, dan keperluan lain diserahkan kepada peserta dan waktu yang digunakan dihitung dalam lomba. Tidak heran, juara tahun 2014, Christoph Strasser dari Austria berhasil menyelesaikan jarak 4.860,2 kilometer hanya dalam waktu 7 hari 15 jam dan 56 menit.

Siapa orang di belakang balapan “gila” ini? Adalah John Marino yang mengorganisir acara “Great American Bike Race” pada tahun 1982. Sebelumnya, di tahun 1980 ia sudah menjalani lintasan dari pantai barat hingga pantai timur Amerika Serikat. Di tahun 1982, hanya empat orang kompetitor yang berlomba termasuk John Marino sendiri. Di lomba perdana ini, Lon Haldeman berhasil meraih waktu 9 hari 20 jam dan 2 menit untuk menjuarai Great American Bike Race yang berjarak 4.777 kilometer. John Marino sendiri finish terakhir dalam lomba ini


Di kemudian hari balapan ini semakin popular hingga stasiun televisi ABC menyiarkannya dalam acara Wide World of Sports mulai 1986. Untuk menambah partisipan, memasukkan unsur strategi dan teknologi, di tahun 1989 mulai dilombakan kategori tim. Selain itu kategori Human Powered Vehicle (HPV) juga dilombakan untuk menguji batas kemampuan kendaraan bertenaga manusia.

Beratnya lomba yang dinaungi oleh Ultramarathon Cycling Association (UMCA) ternyata tidak menyurutkan animo peserta. Tercatat 48 pebalap dan 51 tim kompetitor berlomba di tahun 2014 yang dimulai 10 Juni untuk perorangan dan 14 Juni untuk kategori tim.

Pippa Middleton saat memulai perjalanan RAAM 5.000 kilometer (foto: Mother Nature Network)
Di antara peserta terdapat kakak beradik Pippa dan James Middleton yang bertanding untuk tim Michael Matthew Foundation dalam kategori tim 8 orang. Pippa dan James adalah adik dari Kate Middleton, istri pangeran Williams dari Inggris. Nama tim mereka diambil dari pendaki Inggris yang tewas saat menuruni Gunung Everest setelah mencapai puncaknya. Michael Matthew Foundation bertujuan mengumpulkan dana untuk memberikan pendidikan bagi anak kurang mampu di seluruh dunia. Mereka finish di urutan 5 dengan waktu 6 hari 10 jam dan 54 menit pada dini hari jam 2:39 tanggal 21 Juni 2014.

Tim Legend of the Road yang diperkuat pebalap superbike, Ben Bostrom (foto: ESPN)
Selebritas lain yang mengikuti RAAM adalah pebalap Superbike Ben Bostrom. Ia terdaftar dalam tim 4 orang “The Legends of the Road” bersama freestyler BMX Dave Mirra, freestyle motocrosser Micky Dymond, dan mantan pebalap profesional Dave Zabriskie. Mereka berhasil memenangkan lomba kategori 4 orang dengan waktu 5 hari 11 jam dan 41 menit.


(Goestarmono/dimuat di Back2boseh Pikiran Rakyat 13 Juli 2014)

Tuesday, July 8, 2014

C2AM Challenge, Bukan Sepeda Santai Biasa

Peserta C2AM Challenge #5. Photo oleh Suhadi Haryanto
Tidak banyak event yang berulang dalam waktu yang cukup lama. Salah satunya adalah Cycling Community All Mountain (C2AM) Challenge. Event ini diselenggarakan untuk kali ke lima, Minggu (15/6/2014) lalu.

Apa yang ditawarkan  Ride Bike Project sebagai panitia sehingga bisa bisa sukses menyelenggarakan C2AM Challenge hingga 5 kali? C2AM Challenge adalah sebuah adventure ride, bukan sebuah kompetisi, namun juga bukan sebuah acara sepeda santai.

Acara itu diikuti oleh sedikitnya 600 goweser yang datang dari berbagai wilayah di Jawa Barat, Jakarta, Surabaya, Bali, Makassar, Medan, bahkan Selandia Baru.

Dalam penyelenggaraan kali ini, lintasan yang dilalui sepanjang 12,5 kilometer dari Wates Cikole dan berakhir di Desa Cibeusi, Kecamatan Ciater, Kabupaten Subang. Lintasan yang dimulai dari dekat tugu perbatasan Kabupaten Bandung Barat dan Kabupaten Subang ini adalah lintasan yang baru dibangun. Berada di lahan milik PT. Perhutani, lintasan ini menyajikan tantangan tersendiri dengan permukaan tanah yang belum banyak tergerus roda kendaraan, lumpur yang bisa menutupi ban sepeda, serta tumpukan seresah yang membuat lintasan menjadi licin.

Selain dengan kondisi lintasan, tantangan juga hadir dari kondisi kontur lintasan yang dilalui. Tanjakan dan turunan bergantian menunggu untuk ditaklukkan peserta. Walaupun begitu, lintasan ini didominasi turunan karena titik finish di Cibeusi dengan elevasi 800 meter di atas permukaan laut (mdpl) lebih rendah dari titik start di Wates di ketinggian 1.500 mdpl. Turunan curam hingga 40,9% dan licinnya lintasan mensyaratkan kemampuan pengendalian dan sepeda yang prima. Sedikit kesalahan dari peserta, jurang yang menganga di beberapa tempat dapat mengambil korban.

Dilepas secara berkelompok, sekitar 500 orang peserta melalui lintasan yang ditentukan. Tidak ada batas waktu bagi peserta untuk menempuh lintasan tersebut. Selain untuk menikmati alam, resiko peserta juga akan meningkat saat kurang berhati-hati di lintasan yang sulit ini.

Dalam perjalanan, selain lintasan itu sendiri, ada beberapa titik yang menarik dilewati peserta. Warung dengan pengrajin lahang, minuman yang dibuat dari nira membuat peserta menghentikan sejenak sepedanya untuk menikmati lahang dan sedikit mengisi perut. Titik yang menarik lainnya adalah air terjun Cisarua yang juga banyak menarik peserta untuk mengambil foto.

Setelah acara ini, lintasan dapat dipergunakan untuk umum. Sedikit biaya dipungut kepada pengguna untuk kas pemeliharaan lintasan. Sayangnya ada satu hal yang menyulitkan saat melintasi lintasan ini. Lintasan yang masuk ke dalam hutan menyulitkan evakuasi saat terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.

Dengan makin meningkatnya kemampuan sepeda, teknik pengendalian sepeda pun perlu diasah di lintasan yang benar-benar dapat mengeluarkan potensi kemampuan sepeda gunung ini. Saat pesepeda gunung terintimidasi oleh suasana kompetitif di ajang kompetisi, namun kurang tertantang oleh acara sepeda santai biasa. Adventure ride seperti C2AM Challenge ini cocok untuk meningkatkan kemampuan bersepeda, dan mengeluarkan potensi sepeda gunung yang dimiliki.


(Goestarmono/Dimuat di Back2boseh Pikiran Rakyat 22 Juni 2014)

Tuesday, July 1, 2014

Seri 4 World Cup Downhill, Leogang, Austria

Setelah gagal pada seri yang diselenggarakan di negaranya, pebalap Inggris kembali merajai seri World Cup Downhill ke 4 yang diselenggarakan di Leogang, Austria. Namun bukan kakak beradik Atherton yang menjuarai event tersebut. Adalah Manon Carpenter (Madison Saracen) dan Josh Bryceland (Santa Cruz Syndicate) yang berhasil mempersembahkan puncak podium bagi Inggris.



Juara seri 4 World Cup Downhill, Manon Carpenter (foto: Fraser Britton)
Di bagian putri Manon Carpenter mendominasi seluruh seri lomba. Setelah berhasil mencatat waktu tercepat di babak kualifikasi, ia juga memenangkan babak final dengan waktu 3 menit 42,517 detik dan kecepatan tertinggi di speed trap dengan 46,129 kilometer per jam. Ia mengalahkan rekan senegaranya Rachel Atherton (GT Factory Racing) yang tertinggal 2,699 detik. Sementara itu pebalap Perancis, Myriam Nicole (Commençal/Riding Addiction) menduduki podium ketiga, tertinggal 4,028 detik. Dengan kemenangan ini Manon semakin kokoh berada di puncak klasemen World Cup di atas Emmeline Ragot (Perancis/Lapierre) yang pada lomba ini berada di posisi ke empat. Melengkapi podium adalah rekan senegara Manon dan Rachel, Tahnee Seagrave (FMD Racing).

Juara seri 4 Downhill World Cup, Josh Bryceland (foto: Bartek Wolinski)
Di bagian putra Josh Bryceland berhasil menyelesaikan lintasan sepanjang 2,49 kilometer dalam waktu 3 menit 18,749 detik. Ia berhasil finish lebih cepat 1,275 detik dari rekan setimnya, Greg Minaar (Afrika Selatan). Di tempat ketiga adalah pemenang seri Fort Williams, Troy Brosnan (Australia/Specialized Racing DH) dengan waktu 3:20,033.

Aaron Gwin menyelesaikan lomba tanpa ban belakang (foto: Flow Mountain Bike)
Pada babak kualifikasi, Josh Bryceland menempati posisi ketiga di bawah Loic Bruni (Perancis/Lapierre Gravity Republic) dan Aaron Gwin (Amerika Serikat/Specialized Racing DH). Saat Josh menyelesaikan lombanya, Loic dan Aaron masih bisa mengalahkan catatan waktu Josh. Gwin memperoleh kesempatan pertama, namun kempesnya ban Aaron saat awal lomba menggagalkan niatnya menjuarai seri ini. Namun mengingat posisinya yang sedang memuncaki klasemen membuatnya tetap melanjutkan lomba tanpa ban belakang dan finish dengan waktu 3:58,066 dan mendapat poin 3. Selanjutnya kesempatan beralih pada pencetak waktu tercepat pada kualifikasi, Loic Bruni. Kiprah Loic Bruni di babak final sempat membuat khawatir Josh Bryceland. Loic Bruni terbukti memang cepat, dengan mencetak waktu tercepat pada split 1 dan 2, waktu yang dicatat pada split tersebut berkisar 0,7 dan 0,5 detik lebih cepat dari waktu Josh Bryceland. Sayangnya kesalahan di bagian akhir membuatnya gagal mencetak waktu terbaik dan finish lebih lambat 6,554 detik dari Josh.

Setelah seri Leogang ini di bulan Agustus seri World Cup akan berlangsung di benua Amerika. Tanggal 2-3 Agustus seri World Cup akan diadakan di Mt. St. Anne, Kanada dan minggu depannya di Windham, Amerika Serikat, sebelum kembali ke Eropa untuk seri penutup di Meribel, Perancis, 23-24 Agustus.


(Gustar Mono)

Friday, June 14, 2013

Kakak Beradik Menjuarai Seri Pembuka Kejuaraan Dunia Downhill






Kakak beradik tuan rumah Inggris dari tim GT Bicycles menjuarai seri pembuka World Cup sepeda gunung nomor downhill. Rachel dan George “Gee” Atherton menjuarai Seri pertama World Cup Downhill MTB 2013 di Fort Williams, pegunungan Ben Nevis, Skotlandia yang masuk ke wilayah Britania Raya. Lintasan ini sudah menjadi lintasan klasik dan selalu digunakan untuk ajang World Cup sepeda gunung sejak 2001, serta pernah menjadi tuan rumah kejuaraan dunia sepeda gunung tahun 2007.

Di bagian putri, Rachel Atherton mencatat waktu 5 menit 8,846 detik mengalahkan rekan senegaranya yang juga juara dunia junior putrid tahun 2011, Manon Carpenter dari tim Madison Saracen dengan perbedaan waktu 10,139 detik. Di tempat ketiga, Emmeline Ragot (Lapierre Gravity Republic) memimpin rombongan pembalap Prancis yang mengisi posisi ketiga hingga keenam dengan catatan waktu 5’20,219”.
Di bagian putra, banyak pembalap unggulan mendapat hasil kurang baik di seri ini. Greg Minaar (Afrika Selatan, Santa Cruz Syndicate), juara dunia 2012 hanya menduduki posisi ke 8, sementara juara seri World Cup tahun lalu, Aaron Gwin (Amerika Serikat, Specialized) hanya mampu meraih posisi ke 20.
Saudara Rachel, Gee Atherton, pebalap dengan tinggi badan 190 cm ini menjuarai balapan yang berlangsung dalam cuaca berawan ini dengan mengalahkan Brook McDonald (Selandia Baru, Trek) dan Steve Smith (Kanada, Devinci) dengan keunggulan 1,142 detik dan 1,361 detik.

Dengan lintasan Fort William sepanjang 2,82 kilometer, Gee Atherton menjuarai event ini dalam kecepatan rata-rata 36,687 kilometer per jam di trek yang berbatu, akar, dan beberapa rintangan lainnya. Kecepatan tertinggi di speed trap yang disediakan panitia adalah 63,594 kilometer per jam yang dicapai Sam Blenkinsop (Selandia Baru, Lapierre Gravity Republic) pemegang juara ke empat. Di bagian putri kecepatan rata-rata Rachel adalah 32,87 kilometer per jam, dan kecepatan tertinggi diraih Manon Carpenter yang sempat mengalami keracunan makanan pada latihan hari pertama dengan kecepatan 59,105 kilometer per jam. Hasil yang diraih pembalap kakak beradik ini juga menjadi pengulangan kejuaraan dunia 2008, saat mereka menjuarai kelas masing-masing di Val di Sole, Italia.
Marc Beaumont, Rider GT yang menggunakan GT Fury Baru

Di seri pembuka ini banyak pembalap yang menggunakan peralatan baru. Tim GT terbukti sukses memperbaharui GT Fury yang digunakan “team Atherton” dengan sepeda dengan kokpit yang lebih panjang, bottom bracket lebih rendah, dan sudut garpu yang lebih rendah dibandingkan versi sebelumnya. Sepeda yang diluncurkan berbarengan dengan seri pembuka World Cup ini diprediksi akan menjadi jajaran produk GT untuk umum tahun 2014.
Mick Hannah (AUS/Hutchinson UR) pembalap Polygon di ajang World Cup
Seri ini juga menjadi ajang perdana pabrikan sepeda Indonesia, Polygon di seri World Cup sepeda gunung. Digunakan oleh tim Hutchinson United Ride, hasil terbaik diraih pembalap kakak beradik dari Australia, Mick dan Tracey Hannah. Mick Hannah menduduki peringkat ke 5 di kelas putra, sementara adiknya, Tracey Hannah menduduki peringkat 9 di kelas putri. Hasil yang didapat pada seri ini cukup baik mengingat ketatnya persaingan.

(Goestarmono, photo oleh mpora.com & Dan Hearn)