Showing posts with label teknologi. Show all posts
Showing posts with label teknologi. Show all posts

Friday, March 17, 2017

Evolusi Sepeda Turing

Polygon Bend RIV
Kegiatan turing bersepeda bukanlah hal yang baru. Kegiatan ini sudah mulai dilakukan sejak awal sejarah sepeda. Kegiatan turing bersepeda mengalami pasang surut dengan puncak popularitas terakhir di tahun 1960 dan 1970-an sebelum populer kembali akhir-akhir ini. Kegiatan turing bersepeda kembali bergeliat seperti terlihat pada banyaknya kegiatan turing selain popularitas pelaku turing dan varian sepeda turing yang ditawarkan pabrikan.

Para ahli berkata saat ini adalah masa disruptif, banyak hal berubah, begitu pula dengan turing bersepeda. Di pertengahan dekade 2000-an, bermunculan kegiatan sepeda ultra-marathon dan gravel race. Event ultra marathon yang menempuh jarak ribuan kilometer seperti Tour Divide yang memotong Amerika Serikat dari utara ke selatan, Trans Am Bike Race, dan Transcontinental Race mengharuskan peserta membawa perbekalannya sendiri di luar yang bisa dibeli di sepanjang jalan.

Sepeda yang digunakan Mike Hall dalam Trans Am
Di sisi lain gravel race seperti Dirty Kanza menempuh jalan berkerikil sepanjang ratusan kilometer. Jalur lomba ini tidak melalui jalan raya dan panitia tidak memperbolehkan kendaraan pendukung peserta sehingga mereka harus mengatasi seluruh masalah yang terjadi.

Kedua jenis event ini membuat pola yang banyak ditiru peturing. Semakin banyak turing bersepeda dilakukan secara lebih cepat dan mengeksplorasi daerah di luar jalan raya yang biasa dilalui. Peralatan dan pola istirahat yang digunakan peserta lomba di atas menjadi acuan untuk meningkatkan jarak jelajah harian dalam turing. Kemajuan infrastruktur dan jaringan pendukung juga menjadi latar belakang berubahnya kegiatan turing bersepeda. Jarak antar sumber logistik seperti minimarket, cafe, warung, dan penginapan yang semakin dekat membuat perbekalan bisa dikurangi atau beralih ke peralatan yang lebih ringan. Banyak pula peturing yang sebelumnya menekuni genre lain familiar dengan kecepatan dan eksplorasi dengan melakukan turing dalam kecepatan lebih tinggi dan mengeksplorasi jalanan kelas dua, bahkan offroad.

Trek 920
Pabrikan pun membuat peralatan yang lebih ringan dan spesifik untuk kegiatan turing termasuk sepeda yang digunakan. Pabrikan sepeda pun merilis sepeda untuk turing dengan desain yang lebih kekar dengan rangka berbahan variatif, tidak lagi terbatas pada baja dan titanium, namun aluminum, bahkan serat karbon. Penggunaan dropbar seperti sepeda jalan raya dengan sedikit modifikasi berupa sudut yang membuka di bagian bawah efektif untuk menghindarkan pesepeda dari terpaan angin dengan tidak mengorbankan kemampuan off-road. Kaki sepeda turing pun menggunakan as thru axle yang kaku dan rem cakram yang lebih kuat. Desain rangka sepeda mengisolasi getaran akibat kecepatan dan medan kasar sehingga tidak terlalu mempengaruhi bawaan, baik dalam pannier atau tas bikepacking.

Rangka yang lebih kaku dan bobot yang lebih ringan tidak mengurangi kenyamanan sepeda turing generasi baru. Jika sepeda turing tradisional dikenal nyaman berkat fleksibilitas rangkanya, maka sepeda turing generasi baru mengisolasi getaran untuk mendapatkan keseimbangan antara performa dan kenyamanan.

Berpetualang ke tempat baru, berinteraksi dengan masyarakat yang berbeda, merasakan lingkungan dengan lebih seksama dibandingkan dengan moda transportasi lain adalah inti dari kegiatan turing bersepeda. Berubahnya lingkungan dan pendukung turing bersepeda membuat kegiatan turing bersepeda pun berubah. Tentu saja penggiat turing bersepeda diuntungkan dengan lebih banyak pilihan untuk melakukan kegiatan yang disukainya.


(Goestarmono, dimuat di Back2boseh Pikiran Rakyat, 12 Maret 2017)

Friday, August 21, 2015

Formula E, Balap Mobil Ramah Lingkungan

Formula E
Penggemar olahraga bermotor sudah tidak asing dengan nama Alain Prost, Nick Heidfeld, dan Michael Andretti. Selain nama-nama tokoh itu juga, nama perusahaan seperti Renault, Williams, dan McLaren juga sudah tak asing lagi. Nama-nama itu biasanya terlibat dalam balap mobil terutama Formula 1. Ajang jet darat dengan mesin meraung itu telah membesarkan nama mereka.

Tapi ada yang berbeda di musim balap 2014-2015 ini. Di musim yang baru berakhir 28 Juni 2015 lalu, nama-nama itu terlibat dalam kompetisi balap mobil ini jenis baru, Formula E. Berbeda dengan Formula 1, Formula E adalah balapan mobil yang digerakkan dengan listrik. Raungan mesin pembakaran internal digantikan dengan bunyi motor listrik yang lebih senyap. Minimnya kebisingan membuat balapan ini dapat diselenggarakan di kota, dekat dengan pemukiman penduduk.

Saat ini Formula 1 memang sedang mengalami masalah dengan berkurangnya penonton. Jauhnya sirkuit dari kota menjadi salah satu penyebabnya. Selain itu juga kemacetan dan mahalnya harga bahan bakar membuat generasi muda kurang melihat kaitan antara Formula 1 dan kehidupan sehari-hari mereka.

Berbeda dengan Formula 1, kebisingan motor listrik Formula E hanya 80 desibel, sedikit lebih bising dari mobil biasa, dan jauh lebih senyap dari suara mesin Formula 1 yang bisa mencapai 150 desibel. Kebisingan yang rendah ini membuat Formula E bisa diselenggarakan di kota, dekat dengan pemukiman penduduk.

Di musim pertamanya, Formula E menggunakan sirkuit kota di seluruh serinya, dari mulai Beijing, Buenos Aires, Monte Carlo, hingga London. Bahkan negara tetangga, Malaysia mengadakan satu seri di ibukota negara, Putrajaya. Diadakannya lomba di dalam kota menarik warga karena tidak membuang waktu banyak untuk pergi ke sirkuit untuk menonton balapan.

Di musim pertamanya Formula E menggunakan mobil balap yang dibangun oleh Spark. Mobil ini menggunakan sasis yang didesain Dallara, motor listrik McLaren, baterai Williams, transmisi lima percepatan dari Hewland, dan ban dari Michelin. Untuk mengisi daya baterai digunakan generator yang berbahan bakar gliserin. Setelah sukses dengan musim pertamanya, di musim kedua, Formula E membuka peluang tim untuk mengembangkan beberapa komponen sendiri, seperti motor listrik, inverter, girboks, dan sistem pendingin.

Keterlibatan tim balap dengan dana riset raksasa ini tentu mendorong kemajuan teknologi yang dapat digunakan untuk transportasi ramah lingkungan. Saat ini, keterbatasan teknologi, terutama pada baterai masih menghambat penggunaan kendaraan listrik secara massal.

Keterbatasan ini juga dialami mobil Formula E. Keterbatasan baterai membuat pembalap Formula E mengganti mobilnya saat melakukan pit stop. Saat ini teknologi isi ulang baterai masih belum cukup cepat untuk keperluan lomba, sementara untuk melakukan penggantian baterai dengan daya 28 kWh berbahaya jika dilakukan dengan terburu-buru. Penggantian mobil belum tentu berdampak buruk bagi Formula E, beberapa penggemar ternyata menyukai penggantian mobil dalam lomba Formula E.

Isu pemanasan global dan menipisnya cadangan minyak bumi memaksa kita untuk memikirkan opsi lain dari transportasi yang kita gunakan. Formula E dengan dukungan penelitian dan tim yang ikut serta bisa menjadi lokomotif pengembangan hal itu.


(Goestarmono, dimuat di Greeners.co, 6 Juli 2015)

Wednesday, June 17, 2015

Bersepeda Selama Satu Jam

Bradley Wiggins saat memecahkan rekor kecepatan (foto oleh Luca Bettini)
Berapa kilometer kita dapat bersepeda selama satu jam? Tahukah kita bahwa rekor jarak terjauh bersepeda selama satu jam adalah rekor yang paling bergengsi dalam dunia kompetisi sepeda.
Bradley Wiggins, mantan pembalap tim Sky, juara Tour de France 2012, yang juga mendapat gelar ksatria dari kerajaan Inggris sejak tahun 2013, tanggal 7 Juni yang lalu memecahkan “Hour record” dengan bersepeda 54,526 kilometer dalam satu jam di Lee Valley Velopark, London, Inggris.
Henry Desgrange, pemegang Hour Record pertama (foto: Bike Magazine)
Bersepeda selama satu jam melibatkan keseimbangan antara kemampuan ketahanan dan kecepatan pesepeda. Dengan waktu yang menjadi acuan satuan kecepatan yang banyak digunakan, baik metrik (kilometer) atau imperial (mil) membuat hasil yang dicapai mudah dibayangkan oleh semua orang.
Sejarah “Hour record” dimulai dari pembalap sepeda pertama dunia, James Moore dari Inggris yang bersepeda 14 ½ mil dalam satu jam di tahun 1873 dengan sepeda Penny Farthing. Rekor itu tidak diakui karena jarak yang ditempuh hanya berdasarkan perkiraan. Jarak yang terukur lebih baik dilakukan Frank Dodds dari Universitas Cambridge yaitu 26,508 kilometer, 25 Maret 1876. Namun rekor pertama yang diakui dibuat oleh penggagas Tour de France, Henri Desgrange yang bersepeda 35,325 kilometer di Velodrome Buffalo, Paris, 11 Mei 1893. Setelah itu rekor silih berganti dipecahkan termasuk oleh legenda balap sepeda Fausto Coppi dan Jacques Anquetil di awal karir mereka.
Eddy Merckx pemecah Hour Record tahun 1982 (foto oleh: Zdenko Kahlina)
Rekor yang dibuat Eddy Merckx tahun 1972 di Mexico City menjadi tonggak akhir sepeda tradisional digunakan dalam pemecahan “Hour record”. Rekor yang bertahan 12 tahun ini dipecahkan Francesco Moser pada 19 januari 1984 dengan menggunakan sepeda beroda cakram dan pakaian jenis skinsuit. Rekor ini pun bertahan lama, baru 9 tahun kemudian Graeme Obree dari Skotlandia memecahkannya dengan sepeda yang sangat berbeda dari sepeda tradisional. Sepeda yang diberi nama “Old Faithful” ini memposisikan pengendaranya sangat ke depan dengan tangan terlipat serta menggunakan bottom bracket yang diadopsi dari mesin cuci.
Graeme Obree dan Old Faithful (The Telegraph)
Dalam waktu 3 tahun, Obree, juara olimpiade Chris Boardman, serta juara Tour de France Miguel Indurain dan saingannya Tony Rominger saling memecahkan rekor dengan sepeda berteknologi tinggi. Hal ini membuat UCI, organisasi sepeda dunia gerah. Sebuah peraturan dibuat pada tahun 1997 yang memisahkan “Hour record” menjadi dua kategori. UCI Hour record harus dilakukan dengan sepeda tradisional, beroda jari-jari, stang balap drop bar, rangka berlian, dan pengendaranya tidak boleh menggunakan helm time trial. Rekor yang dibuat dengan sepeda canggih, seperti halnya dilakukan sejak pemecahan oleh Francesco Moser tetap diakui sebagai “Best Human Effort”.
Kecanggihan teknologi masa kini membuat “Hour record” menjadi tidak menarik lagi. Sepeda yang terlihat kuno membuat penonton lebih menyukai lomba track lain seperti nomor Pursuit, nomor Time Trial di lomba jenis Tour, atau bahkan sesi sepeda di lomba triathlon. 15 Mei 2014, akhirnya UCI memperbolehkan penggunaan sepeda berteknologi dengan batasan regulasi yang disamakan dengan sepeda nomor track.
Perubahan ini langsung disambut pembalap dunia dengan dukungan pabrikan sepedanya. Dimulai dengan pembalap Jerman, Jens Voigt yang memecahkan rekor dengan sepeda Trek hingga akhirnya minggu lalu sir Bradley Wiggins memecahkan rekor tersebut menggunakan sepeda Pinarello Bolide.
Walau begitu, kecepatan itu belum memecahkan rekor 56,375 kilometer yang dibuat Chris Boardman tahun 1996 yang membuat UCI membuat regulasi “sepeda Eddy Merckx”.
Sepeda recumbent Francesco Russo (Gizmag)
Apakah rekor itu adalah kecepatan tertinggi kendaraan bertenaga manusia? Perlu diingat, UCI hanya meregulasi sepeda dengan konfigurasi tegak. Sepeda jenis lain seperti recumbent dengan posisi pengendara berbaring diregulasi oleh IHPVA (International Human Powered Vehicle Association). Berapa cepat rekor yang pernah dibuat oleh kendaraan bertenaga manusia? Pada 2 Agustus 2011, Francesco Russo mencetak kecepatan 91,556 kilometer per jam di sirkuit oval Dekra di Jerman.
Seberapa cepat kita bersepeda dalam satu jam?
(Goestarmono)









Friday, October 17, 2014

Gravel Bike

Hampir semua pesepeda sepakat, sepeda balap adalah sepeda yang paling efisien untuk menempuh jarak yang jauh dalam kecepatan yang tinggi. Penggunaan komponen ringan dan aerodinamis membuat pebalap sepeda dapat mengembangkan kecepatan rata-rata yang cukup tinggi. Dalam ajang Tour de France misalnya, pebalap menyelesaikan lomba dalam kecepatan rata-rata 40 kilometer per jam untuk menyelesaikan jarak 3.644 kilometer yang dibagi dalam 21 etape, atau rata-rata 173 kilometer per hari.

Sayangnya sifat balap sepeda yang relatif mengadu kemampuan atlet dan bukan teknologi sepeda membuat sepeda balap harus diperlakukan khusus. Ban sepeda misalnya, dengan lebar hanya 23 milimeter membuatnya mudah kempes saat digunakan di jalan yang kurang mulus. Saat digunakan untuk lomba memang tidak terlalu mengganggu karena fisik pebalap yang relatif lebih baik sehingga mampu mengendalikan sepedanya menghindari buruknya jalan, atau meredam getaran dengan tangan dan kakinya. Kalaupun terjadi kempes ban, di belakang rombongan pebalap telah siap mobil pendukung dengan mekanik yang siap mengganti roda sepeda. Tapi hal itu tidak selalu didapatkan pesepeda biasa. Saat ban 23 milimeter kempes waktu bersepeda sendirian, perjuangan mengganti ban dalam dan memompa hingga 120 psi dengan mini pump toh harus dilakukan sendiri.

Sedikit titik cerah dari masalaha ini adalah ramainya event Gran Fondo di Amerika Serikat. Event yang berasal dari Italia ini membawa pesepeda melalui daerah dengan pemandangan indah (Gran Fondo). Event ini biasanya menempuh jarak hingga 100 mil (sekitar 160 kilometer) di kelas utamanya. Peserta event ini dilepas massal, tidak menutup jalan dari lalu lintas, menggunakan penghitung waktu elektronik dan menggunakan aid station sebagai pengganti mobil pendukung. Karena sifat lomba tersebut, pebalap harus mandiri menghadapi masalah yang terjadi di jalan.

Selain sifat lombanya, lintasan balap pun tidak semulus jalan yang digunakan lomba jenis Tour. Karena tidak menutup jalan dari lalu lintas, penyelenggara banyak menggunakan jaringan jalan yang tidak diaspal. Di Amerika Serikat ada dua juta kilometer jaringan jalan yang tidak diaspal. Contoh jalan yang biasa digunakan adalah fire road, jalan yang digunakan Dinas Kehutanan untuk inspeksi dan memadamkan kebakaran hutan.

Awalnya sepeda cyclocross adalah sepeda pilihan utama untuk mengikuti lomba Gran Fondo, seperti juga ditunjukkan oleh sepeda yang digunakan Dan Hughes dan Rebecca Rusch, pemenang Dirty Kanza 200, event lomba sejauh 320 kilometer melalui gravel di Kansas. Namun di pameran sepeda terkemuka seperti Eurobike dan Interbike, beberapa pabrikan akan meluncurkan sepeda yang dibuat untuk event ini. Sepeda seperti Giant Revolt, Specialized Diverge, dan GT Grade didesain untuk lomba jenis ini menyusul sepeda yang sudah lebih dulu menyasar jenis ini seperti Salsa Warbird dan Kona Rove.

Dengan bottom bracket yang lebih rendah, sepeda jenis ini lebih stabil daripada sepeda cyclocross. Perbedaan lainnya adalah ruang untuk ban yang lebih besar. Jalanan berkerikil yang dilalui membuat pebalap menggunakan ban yang lebih lebar, umumnya ukuran yang digunakan adalah 700x40. Perbedaan lainnya adalah rem yang lebih handal. Mulai meluasnya penggunaan rem cakram di lomba cyclocross dan sebentar lagi di balap jalan raya membuat gravel bike ditawarkan dengan menggunakan rem cakram. Rem cakram memungkinkan pengereman yang konsisten dan tetap bekerja saat roda mengalami masalah dengan jari-jari .

Memang belum ada event Gran Fondo atau event serupa di Indonesia, namun ada kegiatan yang dapat dilakukan dengan sepeda yang didesain untuk lomba ini. Banyak pesepeda yang belum berani menggunakan sepeda balap karena terintimidasi tipisnya ban yang digunakan sehingga belum menikmati efisiensi kayuhan sepeda balap. Gravel bike menyajikan efisiensi yang mendekati sepeda balap dengan kehandalan lebih baik dari ban yang lebih lebar dan rem cakram. Bonus lainnya adalah banyak pabrikan yang juga menyematkan dudukan untuk rak sehingga memungkinkan pemasangan pannier untuk membawa bawaan saat turing.


Dinamika sepeda dan aktifitasnya memang menarik. Tak kalah menariknya juga antisipasi pabrikan atas hal itu. Pada akhirnya pesepeda juga yang bisa menikmati inovasi pabrikan tersebut dan memulai inovasi baru untuk aktifitas lain

(Goestarmono, dimuat di Back2boseh Pikiran Rakyat 12 Oktober 2014)