Friday, October 17, 2014

Gravel Bike

Hampir semua pesepeda sepakat, sepeda balap adalah sepeda yang paling efisien untuk menempuh jarak yang jauh dalam kecepatan yang tinggi. Penggunaan komponen ringan dan aerodinamis membuat pebalap sepeda dapat mengembangkan kecepatan rata-rata yang cukup tinggi. Dalam ajang Tour de France misalnya, pebalap menyelesaikan lomba dalam kecepatan rata-rata 40 kilometer per jam untuk menyelesaikan jarak 3.644 kilometer yang dibagi dalam 21 etape, atau rata-rata 173 kilometer per hari.

Sayangnya sifat balap sepeda yang relatif mengadu kemampuan atlet dan bukan teknologi sepeda membuat sepeda balap harus diperlakukan khusus. Ban sepeda misalnya, dengan lebar hanya 23 milimeter membuatnya mudah kempes saat digunakan di jalan yang kurang mulus. Saat digunakan untuk lomba memang tidak terlalu mengganggu karena fisik pebalap yang relatif lebih baik sehingga mampu mengendalikan sepedanya menghindari buruknya jalan, atau meredam getaran dengan tangan dan kakinya. Kalaupun terjadi kempes ban, di belakang rombongan pebalap telah siap mobil pendukung dengan mekanik yang siap mengganti roda sepeda. Tapi hal itu tidak selalu didapatkan pesepeda biasa. Saat ban 23 milimeter kempes waktu bersepeda sendirian, perjuangan mengganti ban dalam dan memompa hingga 120 psi dengan mini pump toh harus dilakukan sendiri.

Sedikit titik cerah dari masalaha ini adalah ramainya event Gran Fondo di Amerika Serikat. Event yang berasal dari Italia ini membawa pesepeda melalui daerah dengan pemandangan indah (Gran Fondo). Event ini biasanya menempuh jarak hingga 100 mil (sekitar 160 kilometer) di kelas utamanya. Peserta event ini dilepas massal, tidak menutup jalan dari lalu lintas, menggunakan penghitung waktu elektronik dan menggunakan aid station sebagai pengganti mobil pendukung. Karena sifat lomba tersebut, pebalap harus mandiri menghadapi masalah yang terjadi di jalan.

Selain sifat lombanya, lintasan balap pun tidak semulus jalan yang digunakan lomba jenis Tour. Karena tidak menutup jalan dari lalu lintas, penyelenggara banyak menggunakan jaringan jalan yang tidak diaspal. Di Amerika Serikat ada dua juta kilometer jaringan jalan yang tidak diaspal. Contoh jalan yang biasa digunakan adalah fire road, jalan yang digunakan Dinas Kehutanan untuk inspeksi dan memadamkan kebakaran hutan.

Awalnya sepeda cyclocross adalah sepeda pilihan utama untuk mengikuti lomba Gran Fondo, seperti juga ditunjukkan oleh sepeda yang digunakan Dan Hughes dan Rebecca Rusch, pemenang Dirty Kanza 200, event lomba sejauh 320 kilometer melalui gravel di Kansas. Namun di pameran sepeda terkemuka seperti Eurobike dan Interbike, beberapa pabrikan akan meluncurkan sepeda yang dibuat untuk event ini. Sepeda seperti Giant Revolt, Specialized Diverge, dan GT Grade didesain untuk lomba jenis ini menyusul sepeda yang sudah lebih dulu menyasar jenis ini seperti Salsa Warbird dan Kona Rove.

Dengan bottom bracket yang lebih rendah, sepeda jenis ini lebih stabil daripada sepeda cyclocross. Perbedaan lainnya adalah ruang untuk ban yang lebih besar. Jalanan berkerikil yang dilalui membuat pebalap menggunakan ban yang lebih lebar, umumnya ukuran yang digunakan adalah 700x40. Perbedaan lainnya adalah rem yang lebih handal. Mulai meluasnya penggunaan rem cakram di lomba cyclocross dan sebentar lagi di balap jalan raya membuat gravel bike ditawarkan dengan menggunakan rem cakram. Rem cakram memungkinkan pengereman yang konsisten dan tetap bekerja saat roda mengalami masalah dengan jari-jari .

Memang belum ada event Gran Fondo atau event serupa di Indonesia, namun ada kegiatan yang dapat dilakukan dengan sepeda yang didesain untuk lomba ini. Banyak pesepeda yang belum berani menggunakan sepeda balap karena terintimidasi tipisnya ban yang digunakan sehingga belum menikmati efisiensi kayuhan sepeda balap. Gravel bike menyajikan efisiensi yang mendekati sepeda balap dengan kehandalan lebih baik dari ban yang lebih lebar dan rem cakram. Bonus lainnya adalah banyak pabrikan yang juga menyematkan dudukan untuk rak sehingga memungkinkan pemasangan pannier untuk membawa bawaan saat turing.


Dinamika sepeda dan aktifitasnya memang menarik. Tak kalah menariknya juga antisipasi pabrikan atas hal itu. Pada akhirnya pesepeda juga yang bisa menikmati inovasi pabrikan tersebut dan memulai inovasi baru untuk aktifitas lain

(Goestarmono, dimuat di Back2boseh Pikiran Rakyat 12 Oktober 2014)

Friday, October 3, 2014

Bersepedalah Sejak Dini

Masa kanak-kanak adalah masa paling penting untuk perkembangan anak-anak. Saat ini adalah saat terbaik untuk mengajarkan kebiasaan baik, salah satunya adalah kegiatan bersepeda.

Kapan sebenarnya anak-anak dapat mulai belajar bersepeda? Bersepeda dapat mulai diajarkan kepada balita pada umur 2 tahun dengan menggunakan sepeda tanpa pedal atau disebut push bike. Dengan sepeda ini, balita dapat belajar menyeimbangkan badannya di atas dua roda tanpa dibebani dengan gerakan mengayuh. 

Saat balita bisa berjalan atau berlari, gerakan itu sudah akrab dengan balita tersebut, dan dapat digunakan untuk menggerakkan sepeda. Dan saat sepeda sudah bergerak, balita dapat meluncur dengan bebas dan mempelajari keseimbangan di atas dua roda.

Gerakan meluncur ini masih terpakai hingga dewasa dalam bentuk bersepeda di turunan, bersepeda BMX di arena, atau kegiatan bersepeda lain yang belum memerlukan gerakan mengayuh. Setelah anak menguasai pushbike, barulah anak dapat beralih mempelajari gerakan mengayuh pedal untuk menggerakkan sepedanya.

Pada umur di bawah lima tahun anak mulai mempelajari hal-hal yang penting untuk masa yang akan datang. Anak mulai menyerap kemampuan motorik kasar sebelum umur dua tahun. Setelah itu balita belajar bersosialisasi dan mulai berteman. Bersepeda memberikan anak kesempatan untuk melakukan kegiatan positif, serta bersosialisasi dengan teman sebayanya.

Dengan kondisi lingkungan saat ini sangat sulit bagi orang tua untuk mengajarkan bersepeda bagi anak-anaknya. Padatnya arus lalu lintas bahkan hingga jalan perumahan membuat para orang tua berpikir dua kali untuk membiarkan anaknya bersepeda sendiri. Selain padatnya lalu lintas, umur pakai sepeda anak yang relatif pendek juga membuat orang tua malas untuk membelikan sepeda sesuai umur dan ukuran badan anaknya. Padahal sepeda yang terlalu besar (atau terlalu kecil) akan menyulitkan anak belajar bersepeda.

Kendala itu tentu saja harus dicari solusinya. Tempat belajar bersepeda yang aman harus tersedia di lingkungan kota. Taman di perumahan, taman kota, hingga taman komersial di tempat rekreasi bisa menjadi alternatif tempat belajar bersepeda untuk anak.

Bersepeda adalah kegiatan positif untuk anak. Dengan bersepeda anak dapat belajar bersosialisasi, disiplin, dan ketaatan terhadap aturan. Saat anak belajar bersepeda di tempat umum, ia bisa belajar bersosialisasi dengan teman sebayanya dan bersepeda bersama. Saat itu juga ia bisa mendapatkan teman baru dari lingkungan dan kalangan yang berbeda.

Ajari Taat Aturan

Setelah anak mahir bersepeda, ia dapat belajar disiplin dan ketaatan terhadap aturan berlalu lintas. Saat itu juga ia akan belajar mengenai penyelesaian masalah (problem solving) saat terjadi masalah dengan sepedanya atau tempat tujuan yang diinginkannya.

Tugas orang tua adalah memastikan anak belajar bersepeda secara aman dan dalam suasana menyenangkan. Pastikan sepeda yang digunakan tidak membahayakan anak. Tutup komponen sepeda yang tajam dan menonjol seperti ujung as roda dan stang sehingga tidak dapat melukai anak. Stel sepeda sehingga nyaman digunakan anak, misalnya dengan menaikkan atau menurunkan seatpost.

Semangati anak untuk tetap belajar sepeda. Kunci keberhasilan anak dalam belajar bersepeda adalah suasana yang menyenangkan. Terkadang orang tua harus lebih sabar dalam menjaga suasana hati anak untuk tetap belajar bersepeda, atau menahan keinginan untuk memaksa anak untuk belajar sepeda, namun belajar bersepeda saat suasana hati anak sedang tidak baik mungkin saja tidak akan berhasil mendorong anak untuk bersepeda.

Saat anak sudah bersepeda, ini adalah berkah yang dapat membuat semangat orang tua untuk juga bersepeda meningkat. Lagi pula, bukankah lebih nikmat jika kita dapat bersepeda tanpa meninggalkan keluarga?


(Goestarmono, dimuat di Back2boseh Pikiran Rakyat 21 September 2014)

Friday, September 26, 2014

Perjalanan 1.350 Kilometer untuk Lestarikan Lingkungan

Tanggal 23 Agustus hingga 7 September lalu, Greeners menyelenggrakan turing bersepeda dari Jakarta menuju Denpasar, Bali. Turing berjarak kurang lebih 1.350 kilometer ini sengaja diadakan sebagai perayaan ulang tahun yang ke 9 Greeners. Angka 9 pula yang mendasari jumlah pesepeda dan jumlah kota di mana tim melakukan temu komunitas dan dialog lingkungan.

9 pesepeda melakukan turing dengan mobil pendukung (supported touring). Mereka adalah perwakilan dari Bike to Campus, Greeners, dan perwakilan sponsor perjalanan. Tim juga dibantu seorang pendukung, Cucu Hambali (Kang Cuham) yang bertugas membantu tim dari dalam mobil, dan terkadang ikut bersepeda menggantikan tim yang melakukan tugas tertentu.

Penanaman pohon di Jombang
Perjalanan yang didukung Deputi VI bidang Komunikasi Lingkungan dan Pemberdayaan Kementrian Lingkungan Hidup ini juga mencakup pertemuan dengan komunitas sepeda dan lingkungan di beberapa kota yang dilalui. Di luar 9 kota tersebut, tim bermalam di Wangon, Purwodadi, Gilimanuk, dan Tabanan sesuai rencana perjalanan untuk keperluan istirahat.

Perjalanan dimulai dengan “pemanasan” melahap jalur Puncak pada hari Sabtu. Kombinasi kemacetan dan tanjakan berhasil menguras fisik tim, mengakibatkan Pacet sebagai tempat tujuan baru bisa dicapai pada malam hari.  Semakin hari melakukan perjalanan, ternyata kemacetan masih mewarnai perjalanan hingga Jawa Tengah bagian barat. Di wilayah Puncak ini pertemuan dengan Komunitas Hulu Ciliwung mengungkap perlunya pemetaan yang jelas terhadap tata ruang kawasan Puncak.

Lumpur Lapindo
Hari-hari berikutnya perjalanan masih diwarnai kemacetan dan tanjakan, walau tanjakan yang dihadapi tidak seberat etape pertama, namun kontur perbukitan Jawa Barat masih menyisakan beberapa tanjakan seperti di Citatah, Cicalengka, Malangbong, dan Lumbir di Jawa Tengah.

Kemacetan yang dihadapi bertambah akibat rusaknya jembatan Comal di jalur utara menyebabkan berpindahnya jalur perjalanan truk pengangkut berukuran besar dari jalur utara ke jalur selatan yang dilalui tim. Fakta ini kami dapat saat kami berdiskusi dengan komunitas sepeda di Tasikmalaya di Gedung Telkom yang difasilitasi Telkom Cycling Club (TCC) dan dihadiri 6 komunitas sepeda lainnya. Selain belum berfungsi penuhnya jembatan Comal, kelangkaan BBM yang juga terjadi menyebabkan SPBU sepanjang jalur Jawa Tengah bagian barat hingga Yogyakarta menjadi titik pusat kemacetan baru yang harus kami hadapi.

TN Baluran
Kemacetan itu sedikit berkurang saat tim membelokkan perjalanan menuju jalur Daendels mendekati pantai selatan Jawa Tengah. Namun hilangnya kemacetan itu harus dibayar dengan angin yang cukup kencang, walau tidak sekencang yang diantisipasi sebelumnya. Perjalanan pun masih dilalui dengan kecepatan rendah, dengan jarak 120 kilometer, perjalanan Wangon – Purwodadi diselesaikan tim sekitar pukul delapan malam. Hampir sama dengan saat kami melakukan etape pertama dengan lintasan yang menanjak dan macet.
Kecepatan baru meningkat pada etape pendek Purwodadi – Yogyakarta dan setelah istirahat satu hari penuh di Yogyakarta. Tanjakan yang sudah sedikit kami jumpai, kemacetan yang mulai menghilang, dan fisik yang sempat beristirahat menyebabkan kami dapat meningkatkan kecepatan, walau belum optimal untuk turing dan pendataan masalah lingkungan. Kurangnya persiapan fisik dan kerjasama tim menjadi penyebab kecepatan tidak optimal sepanjang perjalanan turing ini.

Dalam perjalanan ini pula, kami mendapati kenyataan semakin ke timur, penataan dan kebersihan kota semakin membaik. Sepertinya pemerintah kota di Jawa Barat dapat berkaca pada kota-kota di belahan timur pulau Jawa dan di pulau Bali.

Beberapa obyek juga menjadi target kunjungan tim. Lokasi semburan lumpur Lapindo di Porong, Sidoarjo adalah salah satunya. Tidak tuntasnya penyelesaian masalah, serta matinya kehidupan warga sekitar menyebabkan tim rela membelokkan perjalanan untuk mengunjungi bendung yang baru-baru ini gagal membendung naiknya permukaan lumpur.

Obyek lainnya adalah Taman Nasional Baluran. Habitat 444 jenis tanaman, 26 jenis mamalia, 155 jenis burung termasuk binatang dilindungi seperti Banteng, Macan Tutul, Kucing Bakau, dan Burung Merak ini juga menghangat akibat adanya rencana pembangunan smelter nikel PT. Situbondo Metallindo di dekat lokasi tersebut. Beberapa hari sebelum tim melalui TN. Baluran, Pro Fauna mengadakan aksi di tempat itu untuk menentang rencana pembangunan smelter tersebut.

Perjalanan kami berakhir di pulau Bali. Di pulau Dewata ini, Suriadi Darmoko, pegiat Forum Rakyat Bali Tolak Reklamasi (ForBali) memaparkan potensi kerusakan yang akan terjadi jika reklamasi teluk Benoa dilakukan kepada tim Greeners dan komunitas sepeda di Bali.

Selain isu aktual tersebut, tim juga mengkampanyekan pengurangan ketergantungan pada bahan bakar minyak. Panjangnya antrian di SPBU saat perjalanan seakan mengingatkan sebuah kalimat yang selalu diucapkan pada setiap temu komunitas. “Jika 1.350 kilometer dapat ditempuh dengan sepeda, tentu saja jarak yang lebih dekat seperti ke warung, kantor, kampus, atau sekolah dapat juga dilakukan tanpa kendaraan bermotor”

(Goestarmono, dimuat di Back2boseh Pikiran Rakyat, 14 September 2014)



Friday, September 19, 2014

Ranca Upas, Destinasi Alternatif Bersepeda

Ranca Upas, sebuah destinasi alternatif bersepeda di Bandung
Umumnya pesepeda kota Bandung lebih mengakrabi destinasi bersepeda di sebelah utara kota Bandung. Memang, jalur tanjakan dan suasana pedesaan berjarak lebih dekat ke arah utara kota daripada arah mata angin lainnya. Namun apakah sisi lain penyokong kota Bandung tidak layak jadi pilihan?

Bandung terletak di persilangan dengan jalan nasional menuju ibukota kabupaten dan propinsi lain di tiga arah, utara, barat, dan timur. Arah selatan kota Bandung mengarah ke ibukota Kabupaten Bandung, Soreang, dan berlanjut ke Ciwidey hingga pantai selatan Jawa Barat. Di Ciwidey terdapat satu destinasi yang layak dipertimbangkan, Ranca Upas, tepatnya bumi perkemahan Kampung Cai, Ranca Upas.

Kegiatan Bikecamping dapat dilakukan di Ranca Upas
Berada di kaki Gunung Patuha, bumi perkemahan yang dikelola PT. Perhutani ini berlokasi kurang lebih 45 kilometer dari kota Bandung. Menikmati fasilitas di Bumi Perkemahan Kampung Cai ini dapat dilakukan dengan biaya terjangkau, sementara fasilitas yang dapat disewa dengan biaya tambahan juga cukup lengkap, seperti tenda, sleeping bag, hingga kayu bakar.

Apa yang ditawarkan Ranca Upas untuk pengalaman bersepeda? Sesuai tempatnya, tentu tempat ini ideal untuk bike camping. Dengan jarak menengah dari kota Bandung, mencapai lokasi Ranca Upas tidak terlalu berat sehingga cocok untuk pesepeda pemula, namun juga tidak terlalu ringan untuk pesepeda yang sudah mahir karena masih menyajikan tanjakan hingga ketinggian 1.700 meter di atas permukaan laut. Kampung Cai Ranca Upas dapat dicapai dalam waktu kurang lebih setengah hari bersepeda.

Ketemu Youk Tanzil dari Ring of Fire di Ranca Upas
Pesepeda dapat kembali ke kota Bandung setelah bermalam dalam tenda yang dibawa dalam pannier, atau disewa dari pengelola. Sebagai bukti cocoknya tempat ini untuk bike camping, komunitas pengendara sepeda Federal merencanakan Jambore Nasional ke dua-nya di tempat ini. Suhu yang bisa mencapai 10⁰ Celcius menjadi tantangan sendiri bagi fisik dan peralatan bike camper.

Bagaimana dengan disiplin bersepeda lain? Pesepeda gunung dapat menikmati lintasan yang berada dalam hutan binaan PT. Perhutani. Sayangnya saat ini belum ada lintasan sepeda gunung permanen di Ranca Upas. Pesepeda yang ingin bersepeda gunung harus menjelajah sendiri di antara bersilangnya jalan setapak di hutan tersebut. Lintasan dengan memanfaatkan jaringan jalan setapak tersebut juga digunakan untuk acara lomba MTB-XC di acara ulang tahun dan peluncuran logo sebuah perusahaan outdoor tanggal 17 Agustus 2014 kemarin.

Federalist Bandung Indonesia (FBI) di Ranca Upas
Alternatif lainnya adalah meluaskan penjelajahan hingga ke perkebunan teh Walini. Untuk menjelajah hingga perkebunan teh Walini dapat dilakukan dengan bersepeda sekitar 20 kilometer hingga kembali lagi ke Ranca Upas, bersepeda di kebun teh, dengan fitur batuan beku dan lintasan kerikil kasar menyajikan tantangan tersendiri.

Bagaimana dengan sepeda jalan raya? Area Kampung Cai, Ranca Upas memang miskin jalan mulus dan tidak seberapa luas. Namun penggemar sepeda jalan raya dapat bersepeda menuju pantai selatan Jawa Barat. Kemacetan yang terjadi hampir setiap waktu antara Bandung dan Soreang, serta kemacetan pada hari libur hingga Kawah Putih menjadikan Ranca Upas sebagai titik awal yang cocok untuk bersepeda menuju pantai selatan melalui Rancabali, Situ Patengan, Naringgul, dan mencapai pantai selatan di Cidaun, Kabupaten Cianjur.

Kemacetan yang hampir selalu terjadi memang membuat keengganan pesepeda untuk menjelajah Ranca Upas dan sekitarnya. Namun perjuangan memang menyuguhkan kenikmatan tersendiri, bagi pesepeda yang mencapai daerah tersebut akan diganjar oleh bersihnya udara dan suasana yang sepi.

(Goestarmono, dimuat di Back2boseh Pikiran Rakyat 24 Agustus 2014)

Monday, July 14, 2014

Race Across America 2015

Pippa Middleton dalam RAAM (foto: Axelle/Bauer-Griffin/GC Images)


Pippa Middleton saat memulai lomba RAAM (foto: World Entertainment News Network)
Banyak pesepeda yang menempuh jarak jauh hingga ratusan bahkan ribuan kilometer. Namun bagaimana jika melakukan balapan berjarak ribuan kilometer? Dan ini bukan balapan yang terbagi atas etape seperti Tour de France, Tour de Langkawi, Tour de Singkarak, atau balapan lain yang masuk dalam kalender UCI.

Race Across America atau disingkat RAAM adalah balapan yang berlangsung dari pantai barat dan finish di pantai timur Amerika Serikat. Berbeda dengan balapan yang masuk dalam kalender UCI, RAAM dianalogikan sebagai balap ultra marathon bersepeda. Ini karena peserta tidak dibatasi oleh pembagian waktu dan jarak dalam etape. Selain beratnya lomba akibat jarak dan sifat lomba yang nonstop, tidak adanya penutupan jalur seperti lomba balap sepeda biasa juga membuat peserta harus lebih waspada terhadap lalu lintas di jalur yang dilalui.

Juara kategori perorangan Christoph Strasser saat melintas garis finish (foto: RAAM)
Saat bendera start dikibarkan, waktu terus berjalan hingga peserta mencapai finish. Manajemen waktu istirahat, makan, dan keperluan lain diserahkan kepada peserta dan waktu yang digunakan dihitung dalam lomba. Tidak heran, juara tahun 2014, Christoph Strasser dari Austria berhasil menyelesaikan jarak 4.860,2 kilometer hanya dalam waktu 7 hari 15 jam dan 56 menit.

Siapa orang di belakang balapan “gila” ini? Adalah John Marino yang mengorganisir acara “Great American Bike Race” pada tahun 1982. Sebelumnya, di tahun 1980 ia sudah menjalani lintasan dari pantai barat hingga pantai timur Amerika Serikat. Di tahun 1982, hanya empat orang kompetitor yang berlomba termasuk John Marino sendiri. Di lomba perdana ini, Lon Haldeman berhasil meraih waktu 9 hari 20 jam dan 2 menit untuk menjuarai Great American Bike Race yang berjarak 4.777 kilometer. John Marino sendiri finish terakhir dalam lomba ini


Di kemudian hari balapan ini semakin popular hingga stasiun televisi ABC menyiarkannya dalam acara Wide World of Sports mulai 1986. Untuk menambah partisipan, memasukkan unsur strategi dan teknologi, di tahun 1989 mulai dilombakan kategori tim. Selain itu kategori Human Powered Vehicle (HPV) juga dilombakan untuk menguji batas kemampuan kendaraan bertenaga manusia.

Beratnya lomba yang dinaungi oleh Ultramarathon Cycling Association (UMCA) ternyata tidak menyurutkan animo peserta. Tercatat 48 pebalap dan 51 tim kompetitor berlomba di tahun 2014 yang dimulai 10 Juni untuk perorangan dan 14 Juni untuk kategori tim.

Pippa Middleton saat memulai perjalanan RAAM 5.000 kilometer (foto: Mother Nature Network)
Di antara peserta terdapat kakak beradik Pippa dan James Middleton yang bertanding untuk tim Michael Matthew Foundation dalam kategori tim 8 orang. Pippa dan James adalah adik dari Kate Middleton, istri pangeran Williams dari Inggris. Nama tim mereka diambil dari pendaki Inggris yang tewas saat menuruni Gunung Everest setelah mencapai puncaknya. Michael Matthew Foundation bertujuan mengumpulkan dana untuk memberikan pendidikan bagi anak kurang mampu di seluruh dunia. Mereka finish di urutan 5 dengan waktu 6 hari 10 jam dan 54 menit pada dini hari jam 2:39 tanggal 21 Juni 2014.

Tim Legend of the Road yang diperkuat pebalap superbike, Ben Bostrom (foto: ESPN)
Selebritas lain yang mengikuti RAAM adalah pebalap Superbike Ben Bostrom. Ia terdaftar dalam tim 4 orang “The Legends of the Road” bersama freestyler BMX Dave Mirra, freestyle motocrosser Micky Dymond, dan mantan pebalap profesional Dave Zabriskie. Mereka berhasil memenangkan lomba kategori 4 orang dengan waktu 5 hari 11 jam dan 41 menit.


(Goestarmono/dimuat di Back2boseh Pikiran Rakyat 13 Juli 2014)